BBM Soeharto Lebih Mahal dari Era Reformasi

Penulis:

Editor:

25/6/2013, 14.06 WIB

Data berikutdiharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana kebijakan minyak sejak pemerintahan Soeharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono

Katadata
KATADATA
KATADATA

KATADATA ? Setiap kali pemerintah berencana untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terjadi perdebatan berapa sebetulnya perbedaan antara harga BBM di dalam negeri dengan harga bahan mentahnya di pasar internasional. Pertanyaannya apakah harga BBM di Indonesia lebih mahal atau lebih murah dari harga bahan mentahnya.

KATADATA mencoba menghimpun data historis perbandingan harga BBM bersubsidi jenis premium dan solar dengan minyak mentah dunia jenis Brent selama periode 1992-2013 untuk menjawab pertanyaan tersebut. Data tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana kebijakan minyak sejak pemerintahan Soeharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun dalam tulisan ini belum memasukkan faktor produksi minyak nasional di masing-masing periode untuk mengukur bagaimana skema kebijakan BBM di masing-masing pemerintahan.

Periode Soeharto

Berdasarkan data tersebut, diperoleh gambaran bahwa pada masa Soeharto harga BBM jenis premium dan solar justru berada jauh di atas harga bahan mentahnya (lihat grafik 1). Pada 1992 ketika harga premium Rp 550 dan solar Rp 300 per liter, harga minyak mentah dunia hanya US$ 17 -20 per barel. Harga minyak mentah ini ekuivalen Rp 290 ? Rp 350 per liter dengan kurs rupiah pada saat itu senilai Rp 1.995 ?Rp 2.036 per dolar Amerika Serikat.

Harga premium dan solar pada masa Soeharto ini jelas sangat mahal bila dibandingkan dengan harga bahan mentahnya. Begitupula ketika pemerintah menaikkan harga premium dan solar pada 8 Januari 1993 menjadi masing-masing Rp 700 dan Rp 380 per liter. Harga minyak mentah dunia ketika itu masih berada di kisaran US$ 17 per barel.

Dari data tersebut tidak dapat dikatakan bahwa harga BBM selama periode Soeharto murah, karena kenyataannya harganya masih jauh lebih mahal ketimbang harga bahan mentahnya. Itu pun belum dimasukkan faktor produksi minyak nasional yang ketika itu Indonesia masih menjadi negara pengekspor minyak.

Pada awal 1998, ketika Indonesia mulai terjerembab dalam krisis yang menyebabkan nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga lebih dari 400 persen, menyebabkan harga BBM di dalam negeri menjadi lebih mahal ketimbang minyak mentah dunia. Meskipun harga minyak mentah dalam dolar Amerika Serikat berada di level stabil US$ 14 ? US$ 18 per barel.


Periode Reformasi

Sebaliknya, pada masa Reformasi justru masyarakat Indonesia merasakan harga BBM murah. Sejak awal 2000 hingga 2013, harga minyak mentah di pasar global jauh lebih mahal dari harga BBM jenis premium dan solar di dalam negeri. Ada beberapa titik waktu harga minyak dunia lebih murah dari harga BBM di dalam negeri, namun itu tidak berlangsung lama.

Dari data diketahui, pada dua tahun pertama periode pemerintahan Megawati Sukarnoputri sebetulnya mampu menjaga keseimbangan harga BBM dengan harga minyak mentah dunia (lihat grafik 2). Pemerintah pada waktu itu menerapkan sistem batas atas dan bawah harga BBM bersubsidi yang disesuaikan dengan harga pasar. Adapun harga ecerannya di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kemudian ditetapkan oleh Pertamina setiap awal bulan.

Pemerintahan Megawati dua kali melakukan penyesuaian batas atas dan bawah harga premium dan solar di dalam negeri. Pada 17 Januari 2002 harga terendah BBM jenis premium ditetapkan sebesar Rp 1.450 dan tertinggi Rp 1.750 per liter, sedangkan harga terendah untuk solar Rp 900 dan Rp 1.550 per liter. Ketika itu harga minyak mentah dunia berada di kisaran ekuivalen Rp 1.600 ? Rp 2.279 per liter.

Penyesuaian kedua dilakukan pada 17 Januari 2003, ketika harga minyak mentah meningkat menjadi US$ 25 ? US$ 29 per barel atau ekuivalen Rp 2.200 ? Rp 2.400 per liter. Harga batas bawah dan atas untuk BBM jenis premium dan solar saat itu ditetapkan sama, yakni masing-masing Rp 1.650 dan Rp 2.100 per liter.

Namun pada 2004, Megawati tidak melanjutkan kebijakan penyesuaian harga BBM. Ketika itu harga minyak mentah dunia rata-rata mengalami kenaikan sebesar 5 persen per bulan selama setahun dari US$29,25 per barel atau ekuivalen Rp 2.081 per liter pada September 2003 menjadi US$46 per barel ekuivalen Rp 3.579 per liter pada September 2004.

Sementara harga premium dan solar tidak mengalami perubahan masing-masing di posisi Rp 1.810  dan Rp 1.650 per liter sejak Februari 2003.  Keengganan pemerintahan Megawati untuk menyesuaikan harga BBM diperkirakan terkait dengan masa Pemilihan Umum yang berlangsung pada 2004.

Penyesuaian harga baru dilakukan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono pada 1 Maret 2005, yakni harga premium dan solar menjadi Rp 2.400 dan Rp 2.200 per liter, sedangkan harga minyak mentah pada waktu itu mencapai US$50,11 per barel atau ekuivalen Rp 3.901,97 per liter.

Ketika harga minyak mentah mencapai US$ 67,72 per barel pada akhir September  atau ekuivalen Rp 5.424,69 per liter, pemerintah kembali menaikkan harga BBM bersubsidi jenis premium dan solar menjadi masing-masing Rp 4.500 dan Rp 4.300 per liter pada 1 Oktober 2005.

Harga minyak mentah dunia selama periode 2006-2007 cenderung stabil, sehingga perbedaannya dengan harga BBM bersubsidi di dalam negeri cenderung tipis. Namun pada awal 2008 harga minyak mentah terus mengalami kenaikan yang puncaknya menebus level US$ 130 per barel pada Mei 2008, pemerintah kembali menaikkan harga BBM bersubsidi pada 23 Mei yakni jenis premium menjadi Rp 6.000 dan solar Rp 5.500 per liter.

Awal Kesalahan

Krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat dan Eropa pada 2008, menyebabkan harga minyak dunia merosot tajam hanya dalam hitungan bulan. Dari US$ 140 per barel pada Juli 2008 menjadi US$ 60 per barel pada November 2008 hingga menjadi US$ 44 per barel pada Januari 2009. Pada periode penurunan tersebut, pemerintah Yudhoyono mengeluarkan kebijakan populis dengan menurunkan harga BBM premium dan solar hingga tiga kali hingga masing-masing menjadi Rp 4.500 per liter.

Kebijakan populis Yudhoyono yang dilakukan menjelang Pemilu 2009 tersebut yang menyebabkan perekonomian Indonesia menjadi tertekan. Seperti terlihat dalam grafik, perbedaan harga BBM dalam negeri dengan minyak mentah dunia semakin lebar setelah kebijakan penurunan harga tersebut. Pemerintah terlalu cepat menurunkan harga BBM ketika harga minyak mentah dunia turun drastis. Namun yang tidak diprediksi pemerintah adalah harga minyak dunia kembali naik dalam waktu singkat.

Pada periode inilah ketika harga minyak mentah dunia terjadi pembalikan, pemerintah gagal melakukan penyesuaian. Pemerintah membutuhkan waktu hingga empat tahun untuk kembali melakukan penyesuaian. Padahal, harga minyak mentah dunia kembali tembus di level US$ 100 pada Februari 2011. Ini menunjukkan pemerintah Yudhoyono terlambat 2-3 tahun melakukan penyesuaian.  

Bahkan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi per 22 Juni 2013 lalu ternyata tidak membuat harga BBM di dalam negeri menjadi lebih mahal ketimbang harga minyak mentah di pasar internasional. Selisih antara kedua harga tersebut masih relatif tinggi dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Reporter: Aria W. Yudhistira

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan