Performa Astra International Tidak Sesuai Estimasi

Penulis:

Editor:

31/7/2013, 00.00 WIB

Performa kinerja PT Astra International Tbk selama semester I2013 di bawah ekspektasi Laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp 882 triliun lebih rendah dari prediksi para analis Astra selama ini termasuk emiten berkapitalisasi terbes

1125.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Agung Samosir

KATADATA ? Performa kinerja PT Astra International Tbk selama semester I-2013 di bawah ekspektasi. Laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp 8,82 triliun, lebih rendah dari prediksi para analis. Astra selama ini termasuk emiten berkapitalisasi terbesar yang paling memenuhi target pasar.

Dalam lima tahun terakhir, kontribusi laba bersih pada semester I rata-rata sebesar 48 persen terhadap total laba yang diperoleh perseroan selama setahun. Dengan perhitungan tersebut, diperkirakan laba bersih yang bakal diperoleh emiten berkode ASII tersebut akan mencapai Rp 18,61 triliun.

Estimasi laba Astra International tersebut Ini di bawah perkiraan para analis. Konsensus analis memprediksi laba bersih perseroan akan mencapai Rp 19,34 triliun pada akhir 2013. Rendahnya performa kinerja juga memengaruhi estimasi besaran laba per saham perusahaan.

Dengan perkiraan laba bersih pada akhir tahun tersebut, laba per saham (earning per share/ EPS) perseroan diestimasikan sebesar Rp 459,72, lebih rendah daripada prediksi analis senilai Rp 479,39.

Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia kemarin (30/7), saham ASII ditutup pada level Rp 6.450 per saham. Alhasil, rasio harga terhadap laba (price to earning ratio/ PER) perseroan sebesar 14 kali. Ini masih lebih murah ketimbang kompetitornya PT Indomobil Sukses International Tbk (IMAS) yang memiliki PER 19 kali.

Prijono Sugiarto, Presiden Direktur Astra International, mengatakan kinerja perseroan pada semester I memang mengalami penurunan. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pendapatan Astra turun 2 persen menjadi Rp 94,28 triliun. Adapun laba bersih perseroan turun 9 persen dari Rp 9,68 triliun menjadi Rp 8,82 triliun.

Penurunan tersebut, kata Prijono, disebabkan meningkatnya kompetisi pasar mobil di dalam negeri. di samping adanya kenaikan biaya tenaga kerja dan menurunnya harga komoditas. ?INi diperkirakan masih akan memengaruhi kinerja usaha pada semester II tahun ini,? kata dia. ?Meskipun prospek permintaan domestik tetap positif.?

Reporter: Aria W. Yudhistira

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan