Miskin Investasi, Cadangan Minyak RI Terancam

Penulis:

Editor:

13/9/2013, 23.43 WIB

Laporan BP Statistical Review of World Energy 2013 menyebutkan cadangan terbukti minyak Indonesia pada tahun lalu sebesar 37 miliar barel

tambang minyak lepas pantai
KATADATA

KATADATA ? Laporan BP Statistical Review of World Energy 2013 menyebutkan cadangan terbukti minyak Indonesia pada tahun lalu sebesar 3,7 miliar barel. Ini lebih rendah ketimbang posisi pada akhir 2002 sebesar 4,7 miliar barel.
 
Rendahnya cadangan menunjukkan kurangnya aktivitas eksplorasi untuk menemukan ladang-ladang baru yang artinya investasi di sektor minyak sangat minim. Tanpa penemuan ladang baru, cadangan minyak Indonesia diperkirakan habis dalam waktu kurang dari 11 tahun lagi.
 
Kondisi ini berbeda dengan negara tetangga, Vietnam. Cadangan terbukti minyak di negara itu meningkat drastis dari 2,8 miliar barel pada 2002 menjadi 4,4 miliar barel pada 2012. Ini menunjukkan kegiatan eksplorasi sumur-sumur baru di negara itu berjalan baik. Padahal Vietnam tergolong baru dalam industri minyak dan gas, yakni sejak akhir 1980-an.
 
Lukman Mahfoedz, Presiden Direktur & CEO PT Medco Energi International Tbk, mengakui biaya untuk melakukan eksplorasi sangat mahal dan berisiko tinggi. Dia mengestimasikan biaya pemboran satu lubang sumur membutuhkan biaya sekitar US$ 1 juta. ?Biasanya di satu lokasi tidak hanya satu lubang yang dibor,? katanya.
 
Menurutnya, sumur yang dibor tidak selalu memperoleh hasil, bahkan sering gagal. ?Kalau sudah begitu biaya yang dikeluarkan dipastikan hilang,? tuturnya.
 
Pada Juni lalu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) mengumumkan 12 perusahaan asing mengalami kerugian hingga US$ 1,9 miliar akibat gagal melakukan eksplorasi di wilayah laut dalam.
 
Selain akibat mahalnya biaya eksplorasi, buruknya iklim investasi di sektor minyak dan gas di Indonesia turut menyebabkan minat investasi turun. Laporan The Fraser Institute yang bertajuk "Global Petroleum Survey 2012" menyebutkan, ketidakjelasan aturan fiskal, kondisi sosial ekonomi, kualitas infrastruktur, stabilitas politik, keamanan, tidak konsistennya aturan pusat-daerah, serta praktik korupsi membuat minat investasi berkurang.
 
Dari hasil survei tersebut, pada 2012 Indonesia menempati posisi ke-127 dari 147 negara. Ini melorot dibandingkan situasi pada tahun sebelumnya yang berada di peringkat 114 dari 135 negara.  Iklim investasi Indonesia pada 2012 hanya lebih baik dari negara-negara yang sedang mengalami konflik, seperti Mali di posisi 128, Irak (139), atau Libya (143).

Reporter: Aria W. Yudhistira

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan