Bulu Mata Katy Perry Berasal dari Purbalingga

Penulis:

Editor:

24/10/2013, 12.49 WIB

Tampil cantik menjadi hal mutlak bagi kaum hawa Tidak sedikit produk kecantikan ditawarkan untuk menunjang penampilan mereka salah satunya adalah bulu mata produksi PT Braling Wisnu SatriyaDari Purbalingga Jawa Tengah bulu mata pa

PT Bralling Wisnu Satria
KATADATA
KATADATA

KATADATA ? Tampil cantik menjadi hal mutlak bagi kaum hawa. Tidak sedikit produk kecantikan ditawarkan untuk menunjang penampilan mereka, salah satunya adalah bulu mata produksi PT Braling Wisnu Satriya.

Dari Purbalingga, Jawa Tengah, bulu mata palsu itu diproduksi dan sukses menembus pasar mancanegara. Selain menawarkan harga terjangkau, bulu mata ini memiliki keunikan sehingga mengundang konsumen dosmetik dan luar negeri.

Bahkan, siapa sangka, bulu mata tersebut ternyata juga digunakan oleh artis-artis top dunia. Sebut saja misalnya, Katy Perry, Adelle, Paris Hilton, Angelina Jolie, dan Jennifer Lopez. Bulu mata asal Purbalingga tersebut menjadi pilihan mereka lantaran unik dan berkualitas.

"Jadi para pelanggan memberikan respons kepada kami. Mereka bilang bahwa bulu mata ini pernah dipakai sama artis-artis tersebut," kata Vice Director, Denis Aditya Salim saat ditemui di Trade Expo Indonesia (TEI) ke-28 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, pekan lalu.

Saat menjelaskan, Denis menunjukkan buku katalog perusahaan yang berisi foto para artis dunia beserta jenis bulu mata yang dipakai. Namun, dia menekankan bulu mata yang dikenakan para artis tersebut tidak memakai merek Braling, melainkan menggunakan merek lain. "Mereka memesan dengan spesifikasi tertentu dan kami memenuhi pesanan tersebut."

Menurut Denis, bulu mata sudah menjadi tren fashion bagi para celebritis lokal maupun dunia. Bahkan, tidak sedikit wanita yang menggunakan bulu mata dalam kesehariannya. Tujuannya, agar terlihat cantik dan lebih percaya diri. Karena alasan itulah, Braling Wisnu Satriya menggeluti usaha bulu mata palsu tersebut.

Usia PT Braling Wisnu Satriya sejatinya baru seumur jagung, lantaran baru didirikan pada 2009. Namun, hanya dalam tempo empat tahun, jumlah karyawannya sudah mencapai 1000 orang. Braling membutuhkan banyak tenaga mengingat semua bulu mata dikerjakan secara manual karena harus dikerjakan dengan hati-hati serta disesuaikan dengan orang Inggris, Eropa dan Asia.

Sejauh ini, jumlah jenis bulu mata yang diproduksi telah mencapai lebih dari 1000 jenis bulu mata dengan kapasitas produksi 5 juta pasang per tahun. Semua jenis bulu mata tersebut terbagi dalam dua bagian, yakni bulu mata dengan bahan rambut sintetik dan bahan rambut asli manusia. Bulu mata yang berasal dari rambut manusia, sampai saat ini hanya ada di Indonesia sehingga menjadi salah satu keunikan produk Braling. Bahan rambut asli ini diperoleh dari pengepul di sejumlah daerah. Sedangkan, untuk bulu mata berbahan rambut sintetik didatangkan dari negara lain.

Untuk mengenalkan dan memasarkan produk made in Purbalingga ini, pria hobi basket ini sering mengikuti pameran baik di dalam negeri maupun di luar negeri. "Lewat pameran tersebut, banyak buyer dan customer yang datang kepada kami," katanya.

Dari semua jenis produk tersebut, sampai saat ini fokus utama pemasaran adalah pasar ekspor yang mencakup hingga 90 persen dari total penjualan. Sisanya, 10 persen penjualan untuk pasar domestik. Tujuan pasar luar negeri mencakup Amerika, Australia, Inggris, Nigeria dan Meksiko. Saat ini, Braling juga sedang menjajaki pasar Prancis. Permintaan tertinggi berasal dari Amerika untuk jenis bulu mata rambut asli manusia dan Nigeria untuk bulu mata sintetik.

Harga jual untuk pasar ekspor berkisar Rp 8000-10000 per pasang dengan minimal pesanan 5.000 pasang. Artinya, untuk sekali pemesanan dari pembeli manca negara, nilainya minimal Rp 40-50 juta. Untuk pasar domestik, harganya Rp 4000 per pasang. Hingga saat ini, rata-rata omzet penjualan bulu mata mencapai Rp 15 miliar per tahun.

Setelah menggeluti bisnis ini selama empat tahun, Denis mengaku belum menemui kendala berarti, termasuk soal mendapatkan bahan baku maupun memasarkannya ke manca negara. Ke depan, Denis bertekad ingin memiliki merek bulu mata sendiri, berkembang dari posisi saat ini yang hanya menjual produk, namun mereknya berasal dari perusahaan yang membeli. "Tahun ini baru mengajukan hak paten, mungkin tahun depan baru keluar. Tapi, target pasar untuk merek sendiri ditujukan untuk pasar lokal dulu," katanya. (Eky Ayuningtyas)

Reporter: Redaksi

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan