Beberapa Alasan BI Menaikkan Suku Bunga

Penulis: dan Tim Redaksi Katadata

12/11/2013, 00.00 WIB

Neraca perdagangan Indonesia yang kembali mengalami defisit mendorong Bank Indonesia BI untuk menaikkan suku bunga acuan BIRate ke level 75 persen Kebijaka

2399.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Bernard Chaniago

KATADATA ? Neraca perdagangan Indonesia yang kembali mengalami defisit mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) ke level 7,5 persen. Kebijakan ini juga sebagai antisipasi menghadapi kebijakan Federal Reserve yang akan melakukan tapering off atau penghentian stimulus.

Badan Pusat Statistik sebelumnya mengumumkan kinerja perdagangan Indonesia selama September 2013 yang defisit US$ 660 juta. Padahal pada bulan sebelumnya Indonesia sudah mengalami surplus US$ 71 juta.

Kenaikan defisit tersebut diperkirakan dapat menyebabkan target defisit neraca transaksi berjalan pada hingga akhir tahun meleset. Padahal, BI menargetkan defisit neraca transaksi berjalan hingga akhir tahun di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). ?Kalau memungkinkan bisa mencapai 2,6 persen,? kata Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior BI.

Pada kuartal II-2013, neraca transaksi berjalan Indonesia sudah mencapai US$ 9,9 miliar atau sekitar 4,5 persen terhadap PDB. Angka ini mendekati posisi pada kuartal II-1996 yang ketika itu neraca transaksi berjalan mengalami defisit US$2,6 miliar atau 4,7 persen terhadap PDB .

Kenaikan jumlah impor pada September turut mendorong terjadinya inflasi sebesar 0,09 persen pada Oktober. Padahal bulan sebelumnya sempat terjadi deflasi 0,35 persen seiring mulai berkurangnya dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Ini juga yang mendorong BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 7,5 persen. Harapannya agar impor berkurang sehingga menekan inflasi, sekaligus menahan pelemahan rupiah.

Dalam perdagangan kemarin, nilai tukar rupiah kembali melemah 1,27 persen menjadi Rp 11.563 per dolar AS dibandingkan penutupan pada transaksi Jumat lalu di level Rp 11.413 per dolar AS. Ini adalah level terendah sejak dua bulan lalu, setelah rupiah mencapai titik terendah pada 5 September 2013, yakni Rp 11.649 per dolar AS.

Berdasarkan catatan harga dari bank lokal yang dikompilasi oleh Bloomberg disebutkan bahwa untuk transaksi forward berjangka waktu satu bulan, kurs rupiah melemah 0,8 persen menjadi Rp 11.555 per dolar AS. Sedangkan, untuk kontrak transaksi forward berjangka waktu 12 bulan, kurs rupiah jatuh 1,1 persen menjadi Rp 12.503.

Reporter: Aria W. Yudhistira dan Nur Farida Ahniar

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan