Waspadai Defisit Neraca Perdagangan Minyak

Penulis:

Editor:

14/11/2013, 00.00 WIB

Pemerintah perlu mewaspadai defisit neraca minyak yang selama kuartal III2013 meningkat 106 persen menjadi US 59 miliar Padahal pemerintah sudah menaikkan harga bahan bakar minyak BBM bersubsidi pada akhir Juni lalu

2137.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Agung Samosir

KATADATA ? Pemerintah perlu mewaspadai defisit neraca minyak yang selama kuartal III-2013 meningkat 10,6 persen menjadi US$ 5,9 miliar. Padahal pemerintah sudah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada akhir Juni lalu.   

Dari laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang diumumkan Bank Indonesia, selama kuartal III impor minyak meningkat 11,9 persen menjadi US$ 10,7 miliar. ?Kenaikan defisit neraca minyak ini yang perlu lebih diperhatikan,? kata Helmi Arman, ekonom Citigroup Indonesia, di Jakarta, Kamis (14/11).

Pemerintah memang optimistis konsumsi BBM bersubsidi tidak akan melebih kuota 48 juta kilo liter pada tahun ini. Namun, produksi minyak dalam negeri pada kuartal III kembali mengalami turun 4 persen menjadi 821 ribu barel per hari.

?Ini yang perlu diawasi secara ketat,? kata Helmi, ?Karena penjualan kendaraan bermotor selama September dan Oktober kembali pulih ke tingkat dua digit menjadi 11 persen dan 14 persen, yang didorong potongan pajak baru untuk mobil kecil.?

Kenaikan defisit neraca minyak tersebut merupakan penyebab terbesar tidak tercapainya target penurunan defisit neraca transaksi berjalan. Dari pengumuman NPI, neraca transaksi berjalan per kuartal III mencapai 3,8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau senilai US$ 8,4 miliar.

Jumlah itu memang turun dari kuartal sebelumnya sebesar 4,4 persen (US$ 9,8 miliar), namun meleset dari target BI sebesar 3,4 persen terhadap PDB.

Difi A Johansyah, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, mengatakan penyusutan defisit neraca transaksi berjalan terutama didukung kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas. Tetapi BI memberikan catatan terhadap impor minyak yang masih tinggi. ?Terutama dipengaruhi kenaikan konsumsi BBM selama Idul Fitri pada Agustus lalu.?

Menurut Agustinus Prasetyantoko, ekonom Universitas Atmajaya, neraca transaksi berjalan merupakan salah satu indikator yang dilihat investor. Jika mengalami defisit yang besar, akan menimbulkan kekhawatiran karena mengindikasikan adanya aliran dana keluar. ?Ini terlihat dari pergerakan nilai tukar dan indeks saham,? tutur dia.

Biasanya ini bisa diimbangi dengan surplus neraca perdagangan. Tapi persoalannya neraca perdagangan ini selalu negatif. ?Ini isu besarnya,? kata Prasetyantoko, ?Persoalannya selama ini kita terlalu mengandalkan komoditas primer. Ini yang perlu direformasi.?

Reporter: Aria W. Yudhistira

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan