Obligasi Indonesia Tumbuh Paling Tinggi di Asia

Penulis:

Editor:

26/11/2013, 00.00 WIB

Emisi obligasi Indonesia tumbuh paling besar dibandingkan dengan negaranegaraemerging marketdi Asia pada kuartal III2013 Dinilai dari totaloustandingdalam mata uang obligasi Indonesia naik 39 persen bila diband

2212.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Emisi obligasi Indonesia tumbuh paling besar dibandingkan dengan negara-negara emerging market di Asia pada kuartal III/2013. Dinilai dari total oustanding dalam mata uang, obligasi Indonesia naik 3,9 persen bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Filipina menempati urutan kedua, naik 3,6 persen dan China berada di peringkat tiga, naik 3 persen. Pasar obligasi di Asia naik 2,4 persen (q o q) sebesar US$ 7,1 triliun pada akhir September 2013. Dibandingkan pada awal tahun, pasar obligasi negara emerging market di Asia mengalami kenaikan 12,5 persen.

Dalam laporan Asia Bond Monitor yang dirilis Bank Pembangunan Asia (ADB) disebutkan pasar obligasi pemerintah di kawasan ini tumbuh 2,1 persen dalam satu kuartal menjadi US$ 4,4 triliun. Obligasi korporasi naik 2,9 persen menjadi US$ 2,7 triliun atau lebih lambat dibanding kenaikan triwulan sebelumnya sebesar 8 persen.

Secara year on year, pasar obligasi Indonesia tumbuh paling cepat kedua pada kuartal III/2013, tumbuh 16,3 persen menjadi US$ 108 miliar. Angka itu ditopang 25,4 persen kenaikan obligasi korporasi menjadi US$ 19 miliar dan 14,5 persen obligasi pemerintah menjadi US$ 89 miliar.

Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, pasar obligasi Indonesia naik 3,9 persen yang terdiri dari obligasi korporasi sebesar 4,6 persen dan obligasi pemerintah sebesar 3,7 persen. Obligasi pemerintah itu terutama berasal dari penerbitan obligasi pemerintah pusat, yang terdiri dari surat perbendaharaan negara (SPN) dan surat utang negara (SUN) yang diterbitkan Kementerian Keuangan. Untuk sektor korporasi, kenaikan berasal dari pertumbuhan outstanding obligasi konvensional maupun obligasi subordinasi.

Pada kuartal III/2013, penerbitan obligasi korporasi mencapai Rp 11,9 triliun, turun 39,4 persen secara q t q. Namun jika dibandingkan tahunan naik 19,5 persen pada akhir September. Penerbitan obligasi korporasi awalnya masih kuat pada Juli, dengan 12 perusahaan dan meraup dana Rp 9,3 triliun. Namun emisi terhenti pada Agustus di tengah meningkatnya ekspektasi inflasi dan naiknya biaya pinjaman. Penerbitan obligasi korporasi berlanjut pada September dengan dua perusahaan sebesar Rp 2,6 triliun.

Total, sebanyak 14 perusahaan menerbitkan 28 seri obligasi pada kuartal tersebut. Obligasi ini lebih banyak konvensional, kecuali satu sukuk ijarah dan satu obligasi subordinasi. Kupon yang dikenakan dalam obligasi korporasi yang terbit pada Juli sekitar 7,25 persen hingga 11,5 persen. Sedangkan yang terbit akhir September dikenakan kupon dari 8,4 persen hingga 9,75 persen.

Head of ADB Office of Regional Economic Integration, Iwan Jaya Azis menyebutkan Asia masih rentan terhadap perubahan sentimen investor ketika Amerika Serikat melakukan penarikan stimulus (tapering). Volatilitas modal membuat pembuat kebijakan lebih sulit untuk mengelola ekonomi, sementara likuiditas mengetat sehingga bisa menekan harga aset. Adanya penundaan tapering sementara ini seharusnya menjadi kesempatan negara di Asia untuk melakukan normalisasi dan memperkuat ekonomi dan sistem keuangan mereka.

"Penundaan tapering di Amerika memberi waktu ekstra untuk memperkuat ekonomi dan sistem keuangan yang cukup tangguh untuk  menghadapi volatilitas pasar ke depan," ujar Iwan.

Reporter: Nur Farida Ahniar

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha