Rupiah Dekati 12.000, Gubernur BI Tidak Khawatir

Penulis:

Editor:

27/11/2013, 00.00 WIB

Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan tidak mengkhawatirkan perkembangan nilai tukar rupiah yang mendekati level 12000 per dolar AS

2232.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dan Menteri Keuangan Chatib Basri tidak terlalu mengkhawatirkan perkembangan nilai tukar rupiah yang mendekati level 12.000 per dolar AS. Kurs rupiah dinilai sedang menuju titik keseimbangan baru.

"Ini (pelemahan rupiah) adalah satu kondisi yang sudah dipahami Bank Indonesia," ujarnya di sela Kompas 100 CEO Forum di Jakarta, 27 November 2013. "Rupiah saat ini mencerminkan fundamental ekonomi."

Dari sisi internal, permintaan dolar menjelang akhir bulan meningkat. Terutama berasal dari permintaan repatriasi keuntungan, pembayaran utang atau bunga. Agus mengakui pembayaran utang pada November memang lebih tinggi dibandingkan Oktober. "Tetapi para perusahaan sudah memegang dana untuk melakukan pembayaran kewajiban. Perusahaan swasta itu sudah membeli dolar," tambah Agus.

Sementara dari sisi eksternal, beberapa kondisi ekonomi global ikut mempengaruhi permintaan dolar seperti berita kenaikan suku bunga acuan yang akan dilakukan Brazil sebesar 50 basis poin, laporan angka ritel Amerika yang tak sesuai harapan. "Ini menggaris bawahi tapering tak akan terjadi pada Desember, tetapi mungkin di kuartal pertama," ujar Agus.

Menteri Keuangan Chatib Basri menjelaskan kondisi rupiah saat ini sama dengan kondisi 2009. Pada saat itu merupakan kondisi yang  normal, yaitu sebelum Amerika mengeluarkan stimulusnya (quantitative easing/QE). Setelah pengucuran QE, terjadi arus modal masuk yang membuat rupiah menguat pada 2011 di bawah Rp 9.000 per dolar.

"Setelah Amerika menarik stimulusnya, kami menduga dunia akan kembali pada situasi tanpa QE. Jadi yang harus kita jaga adalah bagaimana transisinya dari situasi dengan QE menuju tanpa QE," ujarnya.

Indonesia masuk dalam lima negara yang rentan (fragile five) karena memiliki persoalan dalam defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal. Namun masalah terbesar yaitu defisit transaksi berjalan. Kombinasi eksternal dan internal itulah yang menyebabkan tekanan terhadap pasar modal. Sedangkan nilai tukar menuju ekuilibrium yang normal.

"Ada kombinasi internal dan eksternal. Untuk faktor eksternal, kami tidak bisa berbuat apa-apa karena tak mungkin kami meminta Amerika tidak melakukan QE," tambahnya.

Chatib menilai level rupiah mencerminkan situasi equilibrium baru. Chatib menilai BI terkadang membuat rupiah bergerak berdasarkan market. Intervensi yang dilakukan BI bertujuan untuk mengurangi volatilitas. "Hal ini konsisten dengan kenaikan cadangan devisa dalam beberapa bulan terakhir," kata Chatib.

Reporter: Nur Farida Ahniar

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan