Ekonom: Rupiah 12.000, Bahaya bagi Dunia Usaha

Penulis:

Editor:

2/12/2013, 00.00 WIB

Kalangan ekonom menilai level rupiah yang telah menembus Rp 12000 per dolar AS sudah mengkhawatirkan sehingga bank sentral dan pemerintah perlu segera menangani penyebabnyaJika level 12000 per dolar AS terusterusan terjadi ini ak

2279.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Kalangan ekonom menilai level rupiah yang telah menembus Rp 12.000 per dolar AS sudah mengkhawatirkan sehingga bank sentral dan pemerintah perlu segera menangani penyebabnya.

"Jika level 12.000 per dolar AS terus-terusan terjadi, ini akan berbahaya bagi dunia usaha," ujar ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti di Jakarta, Senin, 2 Desember 2013.

Pengamat ekonomi Prasetyantoko juga mengkhawatirkan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 12.000 per dolar AS. "Jika semakin memburuk, dampaknya bisa kemana-mana," tuturnya.

Menurut dia, kebijakan moneter tak cukup untuk meredam gejolak. Bank sentral sudah menaikkan BI Rate hingga 7,5 persen, namun rupiah menyentuh Rp 12.000 per dolar AS. Karena itu, perlu ada kebijakan lain dari sektor riil. "Jika ada koordinasi BI dan pemerintah, jangan hanya Kementerian Keuangan saja tetapi kementerian-kementerian yang lain," tuturnya.

Destry Damayanti menekankan agar pemerintah segera menangani persoalan defisit neraca transaksi berjalan yang menjadi pemicu utama melemahnya nilai tukar rupiah. Menurut dia, pergerakan rupiah karena defisit transaksi berjalan juga pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Pada 2005-2006, Indonesia sempat defisit namun tak lama hanya 1 triwulan. Pada saat itu rupiah berada di level 10.775 per dolar AS. Ketika 2008-2009 pada saat krisis global, neraca transaksi berjalan juga mengalami defisit singkat, yaitu 1 triwulan dan pada saat itu rupiah menyentuh Rp 12.600 per dolar AS. Saat ini defisit neraca transaksi berjalan berlangsung selama 8 triwulan dan rupiah berada di level Rp 11.518 bahkan sempat menyentuh Rp 12.000 per dolar AS.

Masalah defisit neraca transaksi berjalan merupakan masalah struktural yang harus segera diatasi. Pasalnya defisit pada tahun-tahun sebelumnya bersifat hanya sesaat. Sehingga penyelesaian dengan kebijakan moneter saja tak cukup. "Ini masalah struktural yang harus diimbangi dengan kebijakan sektor riil," tambahnya.

Masalah defisit transaksi berjalan ini yang menimbulkan sentimen negatif bagi pergerakan rupiah. Ditambah kebutuhan dolar pada bulan November meningkat. Utang jatuh tempo swasta pada kuartal IV tercatat US$ 17 miliar. Untuk kebutuhan Desember saja sebesar US$ 7 miliar.

Reporter: Nur Farida Ahniar

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan