Depresiasi Rupiah Diperkirakan Hingga Tahun Depan

Penulis:

Editor:

3/12/2013, 00.00 WIB

Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober tidak akan terlalu berpengaruh terhadap penguatan nilai tukar rupiah Tanpa ada perubahan kebijakan yang signifikan dari pemerintah rupiah diperkirakan tetap lemah hingga tahun depan

kkk.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Dok. KATADATA

KATADATA ? Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober tidak akan terlalu berpengaruh terhadap penguatan nilai  tukar rupiah. Tanpa ada perubahan kebijakan yang signifikan dari pemerintah, rupiah diperkirakan tetap lemah hingga tahun depan.

Helmi Arman, ekonom Citi Research Indonesia, mengatakan rupiah memang akan menguat sejenak merespon surplus neraca perdagangan. Namun dalam jangka panjang kebijakan uang ketat Bank Indonesia tidak akan berpengaruh lagi untuk mengatasi defisit neraca transaksi berjalan.

?Kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Juni lalu, jelas tidak cukup untuk mengatasi defisit neraca transaksi berjalan,? kata Helmi dalam riset Citi Research yang diterima Katadata.

Bank Indonesia, menurut dia, akan cenderung membiarkan nilai rupiah terdepresiasi. Hal ini terlihat dari perbedaan langkah yang diambil Bank Indonesia sebelum Agustus. Ketika itu bank sentral cenderung menjaga rupiah di level serendah mungkin.

Sepanjang November, rupiah melemah hingga 7 persen meskipun aliran portofolio asing cenderung stabil. ?Suku bunga kelihatannya masih akan tinggi sebagai langkah pengetatan likuiditas hingga akhir tahun,? tutur Helmi.

Kendati demikian, dia memperkirakan, pada Desember ini Bank Indonesia akan mempertahankan tingkat suku bunga. ?Tapi kami tidak berpikir Bank Indonesia akan berhenti menaikkan suku bunga.?

Terdepresiasinya rupiah berakibat pada berkurangnya impor, terutama produk elektronik dan baja yang turun hingga 10 persen. Begitu juga impor produk permesinan yang sejak awal tahun turun hingga 10 persen. Pelemahan rupiah dan tingkat suku bunga tinggi juga akan melambatkan kinerja sektor konstruksi dan aktivitas investasi lainnya.

Meski begitu, impor tidak lantas berhenti begitu saja. Laporan Badan Pusat Statistik mencatat impor bahan mentah masih cukup tinggi. Pun dengan defisit minyak yang masih tinggi. Meski sudah ada penurunan, namun jumlahnya tidak terlalu signifikan.

Sementara di sisi ekspor, terlihat dari belum ada perkembangan berarti terutama pada komoditas di luar sumber daya alam. Kinerja ekspor pada Oktober masih didominasi oleh komoditas batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).

Reporter: Aria W. Yudhistira

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan