Kenaikan Pajak Tak Pengaruhi Penjualan Mobil

Penulis:

Editor:

10/12/2013, 00.00 WIB

Kebijakan pemerintah menaikkan tarif pajak penghasilan PPh pasal 22 terhadap impor kendaraan bermotor roda empat tidak terlalu berdampak bagi penjualan mobil di dalam negeri Kenaikan tarif hanya dikenakan pada kendaraan impor utuh comp

2351.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Kebijakan pemerintah menaikkan tarif pajak penghasilan (PPh) pasal 22 terhadap impor kendaraan bermotor roda empat tidak terlalu berdampak bagi penjualan mobil di dalam negeri. Kenaikan tarif hanya dikenakan pada kendaraan impor utuh (completely built up/ CBU), sementara jenis lainnya tidak mengalami perubahan.

Jongkie D Sugiarto, Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), mengatakan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) akan berhati-hati untuk menaikkan harga jual kendaraan. ?Ada kemungkinan naik, tapi tidak terlalu signifikan tergantung dari masing-masing ATPM,? kata dia kepada Katadata, Selasa (10/12).

Menurut dia, kenaikan tidak bisa dilakukan secara drastis karena mesti melihat tingkat kemampuan pasar dalam menyerap penjualan kendaraan. ?Kalau (pasar) tidak bisa menyerap bagaimana?? ujar dia.

Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil selama Januari-Oktober 2013 mencapai 1,02 juta unit. Dari jumlah tersebut, sekitar  13 persen atau 136.133 unit merupakan kendaraan impor jenis CBU.  Adapun kendaraan yang belum diproduksi di Indonesia terutama jenis kabin ganda.

Pemerintah seperti diketahui telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi tahap II, di antaranya dengan menaikkan tarif PPh atas impor barang tertentu (PPh pasal 22). PPh impor dinaikkan dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen. Pemerintah menargetkan, paket kebijakan tersebut dapat menekan defisit neraca transaksi berjalan hingga US$ 31 miliar pada 2014.

Salah satu barang impor yang tarif pajaknya dinaikkan adalah kendaraan bermotor. Pemerintah beralasan impor kendaraan bermotor termasuk penyebab defisit neraca transaksi berjalan terbesar.

Berdasarkan data Bank Indonesia, periode Januari-Oktober 2013, neraca perdagangan mobil masih mengalami defisit US$ 2,07 miliar. Pada tahun lalu, defisit mencapai US$ 5,09 miliar. Namun defisit tersebut meliputi seluruh jenis mobil impor, baik yang terurai (completely knocked down/ CKD), CBU, maupun jenis bus.

Selain menaikkan tarif pajak impor, pemerintah sebelumnya juga telah meluncurkan program mobil low cost and green car (LCGC). Di samping untuk mengompensasi kenaikan daya beli penduduk, program tersebut juga diharapkan dapat mengurangi impor kendaraan.

Reporter: Redaksi

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan