Harga Laptop dan Ponsel Akan Naik

Penulis:

Editor:

11/12/2013, 00.00 WIB

Kenaikan tarif pajak penghasilan PPh impor barang tertentu PPh pasal 22 memukul pengusaha telepon seluler ponsel dan komputer Kenaikan pajak dari 25 persen menjadi 75 persen akan membebani arus kas perusahaanKetua Asosiasi Pe

2359.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Kenaikan tarif pajak penghasilan (PPh) impor barang tertentu (PPh pasal 22) memukul pengusaha telepon seluler (ponsel) dan komputer. Kenaikan pajak dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen akan membebani arus kas perusahaan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) G Hidayat Tjokrojoyo mengatakan, beban perusahaan bertambah lantaran PPh dibayarkan di muka, sementara ketika barang dijual belum tentu perusahaan mendapatkan keuntungan.

?Bisa saja setelah dijual barang seperti laptop sudah ketinggalan zaman,? katanya saat dihubungi Katadata Selasa, (10/12).

Akibat kenaikan tarif pajak, pengusaha kemungkinan akan menaikkan harga jual. Apalagi nilai tukar rupiah juga melemah. Kondisi ini, kata dia, membuat banyak pengusaha komputer yang terpukul dan dikhawatirkan hanya perusahaan dengan modal besar yang mampu bertahan, atau perusahaan asing langsung menjadi distributor di Indonesia.

Hidayat memperkirakan harga laptop bisa naik hingga 20 persen akibat melemahnya rupiah dan kenaikan PPh. ?Padahal orang menjual komputer tidak bisa untung lebih dari 5 persen karena barang dibeli dari impor untuk dijual lagi,? tuturnya.

Komputer, lanjut dia, merupakan alat produksi yang membuat orang bisa belajar, bekerja lebih cepat dan efisien. Untuk itu dia meminta kebijakan ini bisa dikaji kembali. ?Jika sebuah alat produksi bagi masyarakat menjadi sesuatu yang mahal dan lebih sulit dibeli hal ini akan menjadi masalah,? ujar Hidayat.

Direktur Marketing dan Communications PT Erajaya Swasembada Djatmiko Wardoyo mengatakan kebijakan perpajakan tersebut akan berpengaruh terhadap arus kas perusahaan. Erajaya merupakan pemasok ponsel dan laptop merk Acer, Apple, BlackBerry, Dell, HTC, LG, Motorola, Nokia, Huawei, Samsung, dan Sony.

Menurutnya, perusahaan akan menghitung biaya yang dikeluarkan hingga barang dipasarkan. Namun bukan berarti kenaikan PPh sebesar 5 persen itu akan menaikkan harga ponsel  5 persen. ?Jika berpengaruh dengan harga barang, maka harganya ikut naik,? ujar dia.

Meski kenaikan PPh bertujuan  mengurangi impor ponsel, Djatmiko tak yakin kebijakan itu akan efektif. Pasalnya permintaan masyarakat masih tinggi, sementara produksi handphone tidak ada di dalam negeri. ?Jadi 100 persen masih impor. Otomatis pasar yang menentukan,? tambahnya.

Dengan melemahnya rupiah saja distributor harus melakukan berbagai taktik untuk bisa bertahan. Erajaya sendiri memiliki berbagai skenario untuk mengatasi pelemahan rupiah, melakukan pembelian dengan lindung nilai (hedging), penyesuaian harga ketika melakukan pembelian dalam bentuk dolar.

Seperti diketahui kebijakan kenaikan tarif PPh 22 atas impor barang tertentu dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen itu bertujuan untuk mengurangi tekanan defisit transaksi berjalan. Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyebutkan ponsel dan laptop merupakan penyumbang impor non-migas terbesar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor ponsel pada Januari-Oktober 2013 tercatat sebesar US$ 2,34 miliar.

Reporter: Nur Farida Ahniar

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan