IHSG Melorot, Saham Lapis Ketiga Dilirik

Penulis:

Editor:

17/12/2013, 00.00 WIB

Pasar saham Indonesia hingga menjelang tutup tahun belum terbangun dari kondisi tidur Ini terlihat dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan IHSG yang sejak awal tahun tercatat melemah 44 persen dari 434648 poin menjadi 412596 poin

2394.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Agung Samosir

KATADATA ? Pasar saham Indonesia hingga menjelang tutup tahun belum terbangun dari kondisi tidur. Ini terlihat dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sejak awal tahun tercatat melemah 4,4 persen dari 4346,48 poin menjadi 4125,96 poin.

Pelemahan IHSG tersebut tampaknya bersumber dari melemahnya kinerja emiten-emiten utama di Bursa Efek Indonesia. Indeks LQ45, misalnya, yang berisi emiten-emiten pilihan dengan kapitalisasi terbesar. Indeks ini tercatat mengalami penurunan sebesar 4,5 persen sepanjang tahun ini.

Situasi ini memungkinkan investor untuk melirik saham-saham emiten lapis kedua dan ketiga. Dari riset yang dilakukan Independent Research Advisory Indonesia (IRAI) dan Katadata yang mengklasifikasikan emiten berdasarkan kategori MSCWA, emiten-emiten lapis ketiga justru yang mencetak pertumbuhan sejak awal tahun.


Kategorisasi MSCWA (Must, Should, Could, Won?t, dan Avoid) didasarkan pada besaran kapitalisasi pasar dan tingkat likuiditas masing-masing emiten. Semakin besar dan tinggi likuiditas sahamnya maka emiten tersebut masuk dalam lapis pertama, yakni kelompok ?Must? atau wajib dikoleksi oleh investor.

Dari 488 jumlah emiten, 43 emiten masuk dalam kategori ?Must?, kemudian 37 emiten masuk kategori ?Should? (lapis kedua), sebanyak 50 emiten di kategori ?Could? (lapis ketiga). Sedangkan sisanya masuk dalam kategori ?Won?t ? dan ?Avoid? yang menurut perhitungan IRAI dan Katadata sebaiknya tidak dijadikan sebagai portofolio investasi.

Dari riset tersebut, emiten-emiten di kategori ketiga tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 10,3 persen. Sementara emiten-emiten di kelompok lainnya mengalami penurunan. Emiten lapis pertama tercatat turun 7 persen, lapis kedua turun 4,4 persen. Sedangkan lapis keempat dan kelima masing-masing turun 2,1 persen dan 10 persen.

Emiten-emiten di lapis ketiga pun menunjukkan kinerja yang stabil, termasuk ketika indeks mengalami gejolak pada kuartal ketiga.

Reporter: Aria W. Yudhistira

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan