Bank Mutiara Harus Penuhi CAR 14 Persen

Penulis:

Editor:

19/12/2013, 00.00 WIB

PT Bank Mutiara Tbk membenarkan membutuhkan tambahan suntikan modal senilai Rp 15 triliun agar bisa memenuhi rasio kecukupan modal CAR Bank Mutiara hingga 14 persen seperti ditetapkan oleh Bank IndonesiaCorporate SecretaryBan

2418.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Agung Samosir

KATADATA ? PT Bank Mutiara Tbk membenarkan membutuhkan tambahan suntikan modal senilai Rp 1,5 triliun agar bisa memenuhi rasio kecukupan modal (CAR) Bank Mutiara hingga 14 persen seperti ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Corporate Secretary Bank Mutiara Rohan Hafas menjelaskan tambahan modal itu untuk memenuhi peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 14/18/PBI/2012 mengenai kewajiban penyediaan modal minimum bank umum. Isinya, seluruh bank yang beroperasi di Indonesia harus memenuhi ketentuan Internal Capital Adequacy Assessment Process(ICAAP) yang besarnya bervariasi antara bank yang satu dengan bank lainnya.

"Bank Mutiara harus memenuhi seluruh peraturan BI yang berlaku, termasuk ketentuan mengenai ICAAP, yang mengatur CAR hingga 14 persen," ujar Rohan dalam keterangan tertulisnya kepada Katadata, Kamis 19 Desember 2013.

Terkait hal tersebut, LPS sebagai pemegang saham Bank Mutiara diwajibkan untuk melakukan penanganan terhadap bank dengan jalan menyetor biaya penanganan (LPS) sampai bank tersebut memenuhi ketentuan yang berlaku mengenai tingkat kesehatan bank (pasal 33 ayat (1) UU LPS.

"Sebagai bank yang terus meningkatkan kinerjanya, Bank Mutiara terus membutuhkan tambahan modalnya sesuai tingkat pertumbuhannya," kata Rohan.

Kebutuhan modal ini, menurut Wakil Ketua Komisi XI Achsanul Qosasih disebabkan macetnya pembayaran sejumlah debitor lama. Debitor-debitor lama yang memiliki hubungan dengan manajemen lama, Robert Tantular tersebut, serentak memacetkan pinjamannya pada Mei 2013. "Akibatnya Bank Mutiara harus menggunakan modalnya untuk menambah penyisihan pencadangan akitva produktif," tuturnya.

Qosasih mengatakan pihaknya telah menerima surat dari LPS yang meminta konsultasi dengan Komisi keuangan dan perbankan itu. Namun anggota dewan belum memutuskan. "Nanti akan dibahas di Komisi XI," ujarnya.

Menurut dia, Komisi DPR akan memanggil Bank Indonesia untuk meminta kejelasan mengapa Bank Mutiara sampai membutuhkan tambahan modal kembali. "Kami akan panggil BI. Rapat tetap bisa digelar meskipun sudah memasuki masa reses, jika situasi mendesak," kata Qosasih.

Reporter: Nur Farida Ahniar

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan