Kinerja IHSG Terendah dalam Tiga Tahun

Penulis:

Editor:

30/12/2013, 00.00 WIB

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan IHSG sepanjang 2013 terendah dalam tiga tahun terakhir Pada penutupan perdagangan Senin 3012 indeks berada di posisi 427418 poin turun 098 persen dari posisi akhir tahun laluTahun lalu IHS

2470.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Agung Samosir

KATADATA ? Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2013 terendah dalam tiga tahun terakhir. Pada penutupan perdagangan Senin (30/12), indeks berada di posisi 4274,18 poin turun 0,98 persen dari posisi akhir tahun lalu.

Tahun lalu, IHSG mencetak pertumbuhan 12,9 persen, sedangkan pada 2011 naik 3,2 persen. Turunnya kinerja IHSG pada tahun ini disebabkan bergejolaknya pasar finansial terutama akibat rencana The Fed mengurangi stimulus fiskal, serta melemahnya harga sejumlah komoditas di pasar internasional.

Kendati demikian, kinerja lima sektor di Bursa Efek Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan. Dengan sektor konsumer yang mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,8 persen. Kemudian sektor perdagangan sebesar 4,8 persen. Disusul sektor agri, properti, dan infrastruktur masing-masing sebesar 3,7 persen, 3,2 persen, dan 2,5 persen.

Sementara sektor pertambangan dalam tiga tahun berturut-turut kembali mencatatkan penurunan. Tahun ini tercatat turun 23,3 persen, lebih kecil dibandingkan tahun lalu sebesar 26,4 persen. Secara kumulatif, indeks sektor pertambangan sudah terdiskon 72,4 persen dalam tiga tahun.  

Selain sektor tambang, sektor yang juga mencatatkan penurunan kinerja pada tahun ini adalah sektor aneka industri yang turun 9,8 persen, industri dasar (8,7 persen), dan finansial turun 1,9 persen.

Di sisi lain, indeks sektor perdagangan, konsumer, dan properti dalam tiga tahun sudah mencatat pertumbuhan di atas 50 persen. Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya daya beli masyarakat, apalagi populasi Indonesia yang mayoritas berada pada usia produktif.  

Meski masih ada kemungkinan untuk terus tumbuh, namun kinerja di sektor ini patut dipantau. Gejolak perekonomian yang sudah terjadi sejak awal kuartal III-2013 bisa menekan daya beli masyarakat. Begitupula dengan kebijakan Bank Indonesia yang ingin menekan pertumbuhan kredit perumahan bisa menekan indeks sektor properti.

Reporter: Aria W. Yudhistira

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan