Program Masif untuk Si Miskin

Penulis: Tim Publikasi Katadata

8/4/2014, 16.01 WIB

PNPM Perdesaan memasuki usia ke-15. Sebanyak 63 ribu desa telah berhasil dijangkau, yang menjadikannya sebagai program pembangunan berbasis komunitas terbesar.

Petugas kesehatan desa sedang memeriksa bayi.
Ahmad Yunus|KATADATA

ANGKANYA memang menakjubkan. Selama tiga tahun berturut-turut jumlah kematian ibu melahirkan di Kabupaten Flores Timur terus turun. Dari 14 orang, menjadi 10, dan kemudian tinggal 6 orang.

Anjloknya angka kematian ini karena pendekatan sederhana. Dinas Kesehatan berusaha menghindari keterlambatan penanganan pasien akibat terlalu lama di perjalanan atau tidak segera ditangani di layanan kesehatan. “Kami ingin memastikan bahwa tidak ada ibu yang sendirian saat melahirkan,” kata Joria Parmin, Koordinator Bidan di Dinas Kesehatan Flores Timur.

Caranya sederhana. Data ibu yang sedang hamil di seluruh Flores Timur dikirim lewat pesan pendek dan dimasukkan ke dalam komputer induk yang mencatat perkiraan hari melahirkan. Dengan keberadaan data ini, ibu hamil dimungkinkan untuk segera dibawa ke Puskesmas atau bahkan rumah sakit jika kondisi saat melahirkan memburuk. Keberadaan data ini juga memungkinkan ambulan sudah bersiap di titik penjemputan saat dibutuhkan.

Kegiatan Joria Parmin merupakan salah satu proyek yang didanai PNPM Mandiri Perdesaan. Program yang digelar sejak 2007 ini, kini telah menjangkau lebih dari 60 ribu desa di lebih dari 5.000 kecamatan.

Berbeda dengan program bantuan peningkatan kesejahteraan lainnya, PNPM Perdesaan yang menyediakan dana Rp 300 juta hingga Rp 4 miliar per kecamatan ini didesain untuk dikelola atas inisiatif warga masyarakat sendiri. Itu sebabnya, dinamakan community driven development, sebuah program pembangunan yang berbasis pada komunitas.

Warga desa didorong untuk berembug sendiri menentukan proyek yang ingin didanai via program ini. Mereka harus bersaing dengan desa lain agar proposalnya disetujui. Dengan pola ini, diharapkan warga desa tidak sekadar menjadi “obyek pembangunan” tapi aktif merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi pembangunan.

Visi pemberdayaan ini belum sepenuhnya berhasil. Tapi, setidaknya dalam 15 tahun perjalanannya, beragam proyek infrastruktur terbangun. Lebih dari 100 ribu kilometer jalan dibangun, selain pengadaan jembatan, sarana air bersih, sistem irigasi, sarana kesehatan dan pembangunan gedung sekolah.

Sejumlah data dan riset juga menunjukkan bahwa di desa-desa yang mengikuti program PNPM, angka kemiskinan berhasil diturunkan. Dalam kurun 2007-2012, tercatat lebih dari 500 ribu rumah tangga berhasil keluar dari kemiskinan dan lebih dari 300 ribu orang mendapat pekerjaan.

Berkat berbagai pencapaian ini, program ini tidak hanya dipandang sukses oleh Bank Dunia sebagai penyedia dana awal proyek masif ini, tapi juga ditiru dan diterapkan di banyak negara, mulai dari Nepal, Kolumbia, hingga Afghanistan.

* * *

PNPM dirintis saat Indonesia bergelut dengan krisis ekonomi pada 1998. Badai krisis yang menjalar dari Thailand setahun sebelumnya, merontokkan kurs rupiah dari semula di kisaran Rp 2.000 per dolar Amerika Serikat menjadi di atas Rp 17 ribu per dolar. Inflasi pun melejit hingga 78 persen.

Pertumbuhan ekonomi anjlok ke titik nadir, bahkan minus 14 persen. Gelombang pengangguran tak terhindarkan. Persentase rakyat miskin, yang di tahun-tahun sebelumnya sudah sempat berhasil ditekan di bawah 15 persen, kembali melesat di atas 25 persen. Ini berarti terjadi kemunduran sekitar 15 tahun ke masa-masa awal 1980-an.

Di tengah situasi itulah, pemerintah dan Bank Dunia merancang program pembangunan untuk menanggulangi ledakan kemiskinan, yang kemudian dinamakan Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Untuk tahap awal, sumber pembiayaan berasal dari Bank Dunia, yang menyediakan dana pinjaman US$ 280 juta. 

Untuk memutus praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang mewabah di era pemerintahan Soeharto, pembiayaan program ini dirancang untuk bisa dinikmati langsung oleh masyarakat miskin di perdesaan. Selain itu, pelaksanaan program ini pun dirancang bersifat bottom-up, agar warga desa terlibat mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasannya.

Berkat pengawasan langsung tersebut, sejumlah penyelewengan dana yang dilakukan oleh camat bisa terbongkar. Terlepas dari berbagai kekurangan itu, seperti dinyatakan dalam laporan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada Juli 2002, sejumlah prasarana fisik telah berhasil dibangun dalam dua tahun keberadaan PPK: 7.000 jalan (10.800 km), 2.130 jembatan, 2.370 sarana air bersih dan sanitasi, serta 3.200 sarana irigasi.

Dengan adanya berbagai pembangunan itu, tercipta lapangan kerja baru, dan hampir 70 persen tenaga yang diserap berasal dari komunitas masyarakat miskin. Di tahun pertama, program digelar di 3.500 desa di 20 provinsi. Sedangkan di tahun kedua sudah lebih dari 11 ribu desa yang disertakan. Program ini terus tumbuh dari tahun ke tahun.

Itu sebabnya, ketika program ini hampir berakhir di masa putaran ketiganya, pada Mei 2006 Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat yang saat itu dijabat Aburizal Bakrie, Menteri Koordinator Perekonomian Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Kepala Bappenas Paskah Suzetta memutuskan untuk memperpanjang program ini, bahkan akan diperluas ke seluruh desa dan kecamatan.

Setelah melalui penggodokan panjang, Presiden Yudhoyono akhirnya secara resmi meluncurkan program baru bernama Program Nasional Pemberdayaan Masyarakata (PNPM) Mandiri di Palu, Sulawesi Tengah, pada 30 April 2007. Untuk mematangkan program ini, Bank Dunia pun mendatangkan Prof. Gustav Papanek.

Salah satu pakar ekonomi pembangunan paling berpengaruh di dunia dari Universitas Harvard ini kembali hadir di Indonesia sebagai penasihat khusus Bank Dunia. Ia diminta mempresentasikan strategi pemberantasan kemiskinan melalui PNPM.

Indonesia memang bukan negeri asing baginya. Sebagai Direktur Harvard Development Advisory Service (kemudian menjadi Harvard Institute for International Development) di awal 1970-an, Papanek menjadi penasihat menteri-menteri ekonomi kabinet pembangunan pertama, yang dikomandani Widjojo Nitisastro.

Selama puluhan tahun, Papanek juga menjelajah ke berbagai negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin untuk memberikan konsultasi tentang strategi pembangunan dan pengurangan kemiskinan. Itu sebabnya, salah satu bukunya “The Indonesian Economy” (1980) menjadi bacaan wajib bagi setiap mahasiswa fakultas ekonomi.

Dalam sebuah perbincangan di Jakarta, seperti dimuat majalah Tempo (9 April 2007), Papanek memaparkan tiga strategi paling jitu untuk memberantas kemiskinan. Pertama, menciptakan lapangan kerja. Kedua, perbaikan infrastruktur yang bisa mendukung revitalisasi pertanian. Ketiga, mempermudah akses pendidikan bagi rakyat miskin.

Sejalan dengan saran Papanek, proyek PNPM kemudian dijalankan. Total dana yang telah dikucurkan untuk program ini dalam kurun 15 tahun terakhir mencapai sekitar Rp 70 triliun. Awalnya, sebagian besar (82 persen) sumber pendanaan berasal dari Bank Dunia ini. Tapi, kini mayoritas (84 persen) telah dibiayai sendiri oleh pemerintah pusat dan daerah.

Meski tak sepenuhnya berkat PNPM, angka kemiskinan di Indonesia sudah berhasil diturunkan, dari sekitar 24 persen pada 1998 menjadi kini tinggal 11,7 persen. Meski begitu, pekerjaan masih jauh dari selesai. Masih terdapat sekitar 28,6 juta jiwa yang terperangkap dalam kemiskinan.

Itu sebabnya, dalam wawancara dengan tim KATADATA, Wakil Presiden Boediono berharap, program pemberdayaan masyarakat ini bisa tetap dilanjutkan, kendati pemerintahan akan berganti pada 2014 mendatang. “Program pemberdayaan ini bagus, karena dikerjakan atas inisiatif dari masyarakat sendiri,” ujarnya.

Harapan serupa disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Menurut peraih Bung Hatta Anti-Corruption Award ini esensi program PNPM patut dipertahankan, kendati namanya bisa saja berganti. “Sebab, proyek ini dikerjakan oleh masyarakat sendiri,” ujarnya. “Sehingga kebiasaan adanya berbagai tender proyek dan peran kontraktor yang membuat biaya membengkak, dengan pola ini bisa dihilangkan.”

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha