Komite Eksplorasi Ajukan Anggaran Rp 3 Miliar

Penulis: Safrezi Fitra

29/6/2015, 19.36 WIB

Untuk 6 bulan Rp 3 miliar Saya tidak tahu akan disetujui apa tidak Itu untuk operasional anggaran buat rapat dan pergi ke sana ke mari

Katadata
KATADATA

KATADATA ? Ketua Komite Ekplorasi Nasional Andang Bachtiar mengusulkan besaran anggaran untuk Komite Eksplorasi sebesar Rp 3 miliar. Dana tersebut digunakan untuk menunjang kinerja dari tim eksplorasi selama enam bulan.

"Untuk 6 bulan, Rp 3 miliar. Saya tidak tahu akan disetujui apa tidak. Itu untuk operasional, anggaran buat rapat dan pergi ke sana ke mari," kata dia di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Senin (29/6).

Menurut dia besaran anggaran yang diajukan tidak begitu besar, padahal jumlah anggota tim ini cukup banyak. Pembentukan Komite Eksplorasi Nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri ESDM Nomor 3097.K/MEM/2015 telah ditetapkan jumlah anggotanya sebanyak 47 orang.

Komite eksplorasi ini hanya memiliki masa tugas selama enam bulan. Makanya pengajuan anggarannya pun untuk enam bulan. Dengan batas waktu ini, kata Andang, pemerintah bisa mengevaluasi kinerja timnya, dan memberikan keputusan apakah harus diperpanjang atau tidak.

"Sengaja minta untuk budgeting karena anggaran selesai Desember. Saya juga bisa evaluasi anggota komite yang kerja apa tidak," ujar dia.

Tim ini akan bertugas mendorong agar kegiatan eksplorasi migas dapat dilakukan secara besar-besaran, termasuk memperbaiki cadangan migas yang turun dalam satu dekade terakhir. Andang mengatakan, identifikasi terhadap hambatan dalam program eksplorasi maupun eksploitasi sudah ada, bahkan sejak 10 tahun yang lalu.

Dari segi nonteknis, dia mengatakan masalah utamanya adalah dalam koordinasi. Pembentukan tim ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah tersebut. Secara teknis, pemerintah harus lebih turun tangan di eksplorasi. Salah satunya lewat pemberian biaya penggantian atau cost recovery di blok yang sudah produksi.

Selain itu, Indonesia harus memperbanyak studi migas di wilayah Indonesia Timur. Menurut dia, kelemahan yang ada sekarang adalah tidak mengetahui daerah yang berpotensi memiliki cadangan minyak, seperti di Indonesia Timur.

?Kenapa kita susah mendapatkan cadangan baru, karena tidak punya konsep dasar eksplorasi. Kita jago mengelola yang sudah ketemu, tapi mencari yang belum ketemu susah. Yang tahu biasanya orang asing, jadi mereka yang tahu informasi itu,? ujar dia.

Reporter: Arnold Sirait

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan