Ekonomi Melambat, SMF Akan Revisi Target Pembiayaan

Penulis: Aria W. Yudhistira

6/8/2015, 15.04 WIB

Perseroan terpaksa harus merevisi target pembiayaan karena mayoritas perbankan pun telah merevisi target kreditnya

Katadata
KATADATA

KATADATA ? PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) berencana merevisi target pembiayaan di sektor perumahan dari Rp 3,5 triliun menjadi Rp 3 triliun pada tahun ini. Ini merupakan imbas dari perlambatan ekonomi yang menyebabkan pembangunan properti berkurang. 

Direktur Utama Sarana Multigriya Finansial (SMF) Raharjo Adisusanto mengatakan, perseroan segera berkonsultasi dengan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro untuk perubahan target tersebut. ?Sebisa mungkin kalau direvisi (targetnya) tidak kurang dari Rp 3 triliun,? katanya di Gedung SMF, Jakarta, Kamis (6/8).

Dia mengatakan, perseroan terpaksa harus merevisi target pembiayaan karena mayoritas perbankan pun telah merevisi target kreditnya. ?Karena kasarnya bahan baku kami itu kan kredit perbankan,? ujar Raharjo.

Sepanjang semester I-2015, SMF berhasil membukukan pinjaman kepada penyalur kredit perumahan rakyat (KPR) sebesar Rp 1,63 triliun atau 47 persen dari target pembiayaan 2015. Secara akumulatif, SMF telah mengalirkan dana dari pasar modal ke sektor pembiayaan perumahan sebesar Rp 18,1 triliun untuk 393.524 debitur KPR.

Sementara dari segi pendapatan, SMF telah mencatatkan kenaikan sebesar 33 persen menjadi Rp 424,3 miliar pada semester I-2015 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di tengah kondisi perekonomian yang kurang menguntungkan saat ini, SMF masih berharap kepada program pemerintah pembangunan ?satu juta rumah? yang dapat menunjang peningkatan target KPR perbankan.

?Apalagi ternyata dari beberapa bank yang kreditnya melambat, realisasi target kredit BTN melampaui target dari 14 persen ternyata tercapai 18 persen,? kata Raharjo.

Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengeluarkan mengambil kebijakan menurunkan rasio loan to value, yakni menurunkan uang muka pembelian rumah pertama menjadi 10 persen dari harga jual rumah. Sebelumnya, batas minimal persekot tersebut sebesar 30 persen.

Hal tersebut untuk menambah penyaluran kredit barang konsumsi hingga Rp 80 triliun pada tahun ini. Selain itu, akan mendorong pertumbuhan ekonomi antara 0,1 persen-0,2 persen.

Reporter: Ameidyo Daud

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan