BI Peringatkan Posisi Utang Indonesia

Penulis: Muchamad Nafi

21/9/2015, 13.23 WIB

Bank sentral akan terus memantau perkembangan utang luar negeri khususnya di sektor swasta

dollar-us-utang-luar-negeri-indonesia.jpg
Donang Wahyu|KATADATA

KATADATA ? Bank Indonesia mengumumkan posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir Juli lalu sebesar US$ 303,7 miliar. Dari jumlah tersebut, utang luar negeri sektor swasta paling banyak, yakni US$ 169,2 miliar atau 55,7 persen dari seluruh pinjaman. Adapun sisanya, US$ 134,5 miliar, merupakan pinjaman sektor publik.

Menurut bank sentral, utang pada bulan tersebut tumbuh 3,7 persen (yoy), lebih lambat dibandingkan posisi Juni 2015 sebesar 6,3 persen (yoy). Perlambatan pinjaman ini terjadi di sektor swasta maupun publik. Utang swasta yang bertambah 6,7 persen pada Juli lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 9,7 persen. Faktor utamanya dipengaruhi oleh turunnya utang dagang. Adapun pinjaman sektor publik hanya tumbuh 0,3 persen, melambat dibandingkan posisi Juni sebesar 2,2 persen.

Walau melambat, BI memperingatkan agar pemerintah tetap berhati-hati. "Bank Indonesia memandang perkembangan utang luar negeri Juli 2015 masih cukup sehat, namun perlu terus diwaspadai risikonya terhadap perekonomian," demikian pernyataan BI pada Jumat, akhir pekan lalu.

Karena itu, bank sentral akan tetap memantau perkembangan pinjaman ini, khususnya di sektor swasta. Tujuannya agar utang luar negeri berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang mempengaruhi stabilitas makroekonomi.

Penyebaran utang swasta pada akhir Juli 2015 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, listrik, gas, dan air bersih. Keempat sektor tersebut menyedot utang swasta 76,1 persen. "Pertumbuhan tahunan utang luar negeri sektor pertambangan masih mengalami kontraksi, meskipun tidak sedalam yang terjadi pada bulan sebelumnya."

Sementara itu, data Kementerian Keuangan menunjukkan porsi utang dalam menutup kebutuhan negara tahun ini cukup besar. Hingga akhir Agustus lalu, realisasi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015 telah mencapai 110,9 persen, lebih tinggi dari tahun sebelumnya pada periode yang sama. Adapun total penarikan pinjaman luar negeri dalam pembiayaan ini sekitar 20,8 persen dari APBNP 2015.

Atas posisi utang tersebut, sejumlah ekonom pernah menghawatirkanya. Karena itu, pemerintah diminta mengendalikan pinjaman luar negeri yang terus meningkat. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Hendri Saparini, menyatakan meski ada prospek perbaikan ekonomi global, kinerja ekspor belum tentu bisa langsung membaik. ?Prospek bayar utang yang mengkhawatirkan karena 70 persen penerimaan ekspor berasal dari komoditas primer. Beban pembayaran utang yang tinggi akan menggerus cadangan devisa,? kata dia.

Sebelumnya, lembaga pemeringkat Standard & Poor?s memang telah menaikkan outlook peringkat utang Indonesia ke dalam kategori ?layak investasi? pada Mei lalu. Namun, hal itu tidak serta merta mendorong masuknya modal. Persoalannya, kata Hendri, investor asing masih mengkhawatirkan kondisi perekonomian dunia.

Sementara itu, ekonom Bank Central Asia, David Sumual, mengatakan investor mulai memperhatikan posisi utang luar negeri Indonesia. Di tengah pelemahan nilai tukar saat ini, kenaikan rasio pembayara utang dikhawatirkan menggerus cadangan devisa. ?Dari 21 negara emerging market, Indonesia masih belum cukup baik. Yang baik Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina,? kata David kepada Katadata.

Reporter: Redaksi

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan