Tinggalkan Uni Eropa, Inggris Tetap Kerjasama dengan Indonesia

Penulis: Maria Yuniar Ardhiati

Editor: Maria Yuniar Ardhiati

Senin 27/6/2016, 10.04 WIB

Dalam satu tahun terakhir, Inggris telah menandatangani tujuh MoU dengan Indonesia.

European Union
Katadata

Inggris menyatakan komitmennya untuk tetap bekerjasama dengan Indonesia. Hal ini dikatakan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste Moazzam Malik, terkait dengan keputusan keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Dia mengatakan, ada banyak ketidakpastian menyusul hasil referendum Uni Eropa. Namun, ada juga hal-hal yang sudah pasti diketahui semua pihak untuk masa depan. Termasuk komitmen kerja sama Inggris dengan negara-negara lain termasuk Indonesia.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

"Inggris akan terus berkomitmen untuk membangun hubungan erat dengan Indonesia sebagai mitra G20," kata Malik dalam keterangan resminya, Sabtu (25/6). (Baca: Pemerintah – BI Waspadai Efek Lanjutan Brexit)

Inggris yang memiliki 65 juta warga ini, kata Malik, dalam satu tahun terakhir telah menandatangani tujuh memorandum of understanding (MoU) dengan Indonesia. Nota kesepahaman tersebut mencakup beberapa bidang kerja sama, diantaranya pendidikan, inovasi dan penelitian, kerjasama kepolisian, space, industri kreatif, olahraga, dan maritim.

Dia juga mengklaim siswa Indonesia yang belajar di Inggris serta pengunjung negara tersebut dari Indonesia jumlahnya telah melebihi rekor. Begitu juga dengan jumlah dosen, guru, dan peneliti Inggris serta Indonesia yang menjalin kerjasama. Ratusan pelaku bisnis Inggris dan Indonesia juga terus mempererat kemitraan.

Warga Inggris sudah memutuskan untuk merencanakan masa depan baru di luar institusi politik Uni Eropa. Malik mengutip pernyataan Perdana Menteri David Cameron, yang mengatakan hasil referendum sudah jelas, aspirasi dan keinginan warga Inggris harus dihormati. (Baca: BI dan Ekonom: Dampak Brexit ke Rupiah Hanya Sementara)

Malik menuturkan, kampanye referendum tersebut merupakan perjuangan yang sangat keras. Memang ada yang merasa kecewa atas perubahan ini, tapi ada juga yang menyambut gembira. Dia mengaku ada banyak pertanyaan mengenai masa depan Inggris yang belum bisa dijawab. Meski begitu, Inggris berusaha menstabilkan pemerintahan dan menyerahkan kursi kepemimpinan kepada perdana menteri baru di bulan Oktober mendatang.

"Pemimpin baru akan memulai secara resmi proses negosiasi dengan Uni Eropa," ujar Malik. Implementasi ini, kata dia, tentu saja akan membutuhkan waktu. Inggris akan tetap menjadi anggota G20, G7, Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB, dan NATO. (Baca: Efek Brexit Lebih Memukul Rupiah ketimbang Perdagangan)

Mengenai gelaran piala Euro 2016 yang akan berlangsung saat ini, Malik juga memastikan Inggris mengirimkan tiga tim, yaitu Inggris, Wales, dan Irlandia Utara. Meski tidak lagi menjadi anggota Uni Eropa, Liga Primer Inggris terus berlanjut.

Kuis Katadata