Menteri Energi Akan Percepat Status Insentif Blok Masela

Penulis: Miftah Ardhian

Editor: Arnold Sirait

19/7/2016, 16.23 WIB

"Yang jelas pemerintah siap mengevaluasi soal bagi hasil itu." Catatannya, secara total nilai yang diperoleh negara masih besar.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said akan mempercepat pembahasan insentif Blok Masela. Dengan begitu proyek tersebut bisa segera berjalan.

Sudirman mengatakan saat ini pembahasan insentif yang diajukan oleh Inpex Corporation masih dibahas dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Ia tidak bisa memastikan kapan pembahasannya selesai. (Baca: Menteri Sudirman Sulit Restui Perpanjangan Masela Lebih 20 Tahun).

Tapi dia ingin insentif untuk Blok Masela segera diambil. “Secepatnya harus diputuskan,” kata dia usai peluncuran Laporan Khusus Energi dan Polusi Udara, World Energy Outlook (WEO) 2016, oleh International Energy Agency (IEA) di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa, 19 Juli 2016.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Energi Sujatmiko mengatakan belum ada kesepakatan atas insentif Blok Masela yang diajukan oleh Inpex Corporation. Tapi, pemerintah siap membahas hal itu.

Bahkan peluang untuk mengubah porsi bagi hasil di Ladang Gas Abadi itu terbuka lebar. Asalkan, keputusan tersebut berdasarkan perhitungan yang matang. Sehingga secara total nilai yang diperoleh negara masih besar.

Di sisi lain, keputusan yang diambil pemerintah juga tetap bisa menjadi daya tarik investor di sektor hulu migas. “Yang jelas pemerintah siap mengevaluasi soal bagi hasil itu," kata dia. (Baca: Insentif Proyek Masela, Inpex Minta Porsi Bagi Hasil 50-60 Persen).

Sujatmiko belum bisa memberi batas waktu mengenai keputusan tersebut. Untuk informasi, Inpex telah mengajukan beberapa insentif kepada pemerintah untuk Blok Masela. Ini dilakukan agar investasi di blok tersebut masih bisa menguntungkan ketika menggunakan skema kilang di darat (OLNG).

Pertama, kepastian perpanjangan kontrak selama 30 tahun, di mana semestinya Blok Masela habis kontrak 2028, bertambah menjadi 2058. Alasannya, Inpex baru akan mengajukan revisi pengembangan atau Plan of Development (PoD) Masela setelah 2019.  Alhasil, keputusan final investasi baru dilakukan 2025 atau tiga tahun sebelum masa konraknya habis. 

Kedua, insentif pajak berupa tax holiday selama 15 tahun. Ketiga, meminta biaya yang telah dikeluarkan selama ini berupa sunk cost sekitar US$ 1,6 miliar yang dihitung sebagai biaya operasi migas yang harus dikembalikan pemerintah dalam bentuk cost recovery. Keempat, Inpex meminta penambahan porsi bagi hasil menjadi 50 - 60 persen.

Bahkan, di luar empat insentif tersebut, Inpex juga meminta penambahan kapasitas produksi kilang gas di Blok Masela. Juru bicara Inpex Usman Slamet mengatakan, tujuannya agar Proyek Masela yang menggunakan skema kilang di darat tetap menguntungkan. Tapi, dia belum mau menyebutkan lebih detail besaran kapasitas produksi yang diminta karena masih berdiskusi dengan SKK Migas. (Baca: Inpex Minta Penambahan Kapasitas Produksi Blok Masela)

Sebagai informasi, pada 2009 telah diputuskan pembangunan fasilitas pengolahan gas di laut (FLNG) di Blok Masela berkapasitas 2,5 juta ton per tahun (mtpa). Namun Inpex merevisi dan menambah kapasitas menjadi 7,5 mtpa karena menemukan cadangan baru di Lapangan Abadi. 

Terkait masa perpanjangan hingga 30 tahun, Sudirman pernah menyatakan  permintaan itu sulita dikabulkan. “Kecuali aturannya diubah,” kata Sudirman di kantornya, Jumat pekan lalu. (Baca: Inpex Tak Dapat Perpanjang Kontrak Blok Masela Lebih 20 Tahun).

Aturan perpanjangan kontrak suatu blok migas tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Migas. Pasal 28 ayat satu berbunyi kontrak kerja sama dapat diperpanjang paling lama 20 tahun untuk setiap kali perpanjangan. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan