Fed Tahan Bunga, Indeks Harga Saham Berpotensi Cetak Rekor

Penulis: Martha Ruth Thertina

23/9/2016, 10.49 WIB

Ekonom meyakini tak akan ada risiko arus keluar besar-besaran dana asing (capital outflow) meski The Fed menaikkan bunga dananya di akhir tahun.

bursa saham
Agung Samosir|KATADATA

Keputusan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga dana (Fed Fund Rate) memberi angin segar bagi bursa saham di dalam negeri. Keputusan itu akan menambah besar dana asing yang masuk ke dalam negeri sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang naik terus hingga mencetak rekor baru.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo memprediksi, indeks bakal melonjak meski belum akan menembus level 6.000. “Saya lihat IHSG bisa rekor lagi sebelum akhir tahun atau bulan depan. Paling di kisaran 5.500 sampai 5.600,” katanya kepada Katadata, Kamis (22/9).  

Sekadar catatan, rekor indeks tertinggi terjadi pada awal April 2015. Ketika itu, indeks sempat bertengger di level 5.523. Sedangkan pada Kamis (22/9) kemarin, IHSG ditutup naik 0,71 persen ke level 5.380. Kenaikan indeks sejalan dengan penguatan rupiah ke level 13.098 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan di pasar spot. Adapun pada Jumat ini, IHSG dibuka melemah tipis ke level 5.375. (Baca juga: Cadangan Devisa Bisa Jaga Rupiah dari Risiko Bunga The Fed). 

Satrio menjelaskan, lonjakan indeks seiring dengan derasnya dana asing yang masuk (capital inflow) ke pasar saham Indonesia. Dana asing yang masuk itu bukan cuma karena sentimen positif investor ke bursa lokal pasca keputusan The Fed. Faktor lain pengerek indeks saham adalah kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) yang tengah berjalan. (Baca juga: BI: Tax Amnesty Membuat Rupiah Lebih Kuat Tahun Depan)

Senada dengan Satrio, Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, melihat peluang bullish (kenaikan) di pasar modal seiring kebijakan tax amnesty dan sentimen positif pasca keputusan The Fed. Sejak awal tahun hingga saat ini, dana masuk ke pasar saham dan obligasi diperkirakan sekitar Rp 200 triliun. “Saya pikir trennya naik,” kata dia. (Baca juga: Banjir Dana Asing, Cadangan Devisa Bertambah Rp 21 Triliun)

Ia memperkirakan, tak akan ada risiko arus keluar besar-besaran dana asing (capital outflow) meski The Fed memutuskan menaikkan bunga dananya di akhir tahun. Sebab, langkah The Fed sudah diantisipasi pelaku pasar. Apalagi, kenaikan tidak sedrastis perkiraan semula yaitu empat kali kenaikan tahun ini.

Meski begitu, David menyarankan agar pengelola pasar modal memperbanyak instrumen di pasar agar dana asing tak hanya mengalir ke instrumen penempatan dana berjangka pendek seperti saham. Hal tersebut untuk mengantisipasi tekanan ekonomi akibat arus keluar modal asing secara tiba-tiba. “Ya mungkin obligasi korporasi, DIRE (Dana Investasi Real Estate) yang lagi dikembangkan. Sukuk juga, harus diperkenalkan lebih banyak instrumen,” katanya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan