Harga Premium Awal Oktober Berpeluang Turun, Solar Naik

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

23/9/2016, 10.30 WIB

Harga BBM saat ini bisa turun dan atau naik di kisaran Rp 300 per liter hingga Rp 500 per liter.

BBM
Arief Kamaludin|KATADATA

Pemerintah akan menetapkan kembali harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium dan Solar periode awal Oktober hingga tiga bulan ke depan. Berdasarkan data sementara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), harga Premium berpeluang turun, namun harga Solar akan naik.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM I.G.N. Wiratmaja Puja mengatakan, harga baru itu akan ditetapkan pada 1 Oktober nanti. Saat ini, pemerintah masih menghitung besaran harga untuk dua jenis BBM tersebut. (Baca: Harga Premium Dinilai Tidak Wajar)

Jika mengacu pergerakan harga minyak dalam tiga bulan terakhir, Wiratmaja melihat peluang perubahan harga BBM untuk periode Oktober dibandingkan periode sebelumnya. “Menurut harga dunia, kalau kami hitung sebenarnya harga Premium akan turun, sementara Solar naik,” kata dia di Jakarta, Kamis (22/9).

Namun, Wiratmaja harus mendiskusikan hal ini terlebih dahulu dengan Pelaksana tugas (Plt) Menteri ESDM Luhut Binsar Pandjaitan. Sebab, kewenangan memutuskan perubahan harga dan penentuan harga BBM tersebut berada di tangan Menteri ESDM. 

Menurut Wiratmaja, mengacu data sementra maka harga BBM bisa turun dan atau naik di kisaran Rp 300 hingga Rp 500 per liter. “Tapi harus menunggu sampai tanggal 25 September sehingga totalnya kelihatan,” ujar dia. (Baca: Harga Kemahalan, Pemerintah Diminta Buka Formula Harga BBM)

Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 Tahun 2015 tentang perhitungan harga jual eceran bahan bakar minyak, penetapan harga dasar Solar dan Premium menggunakan indikator rata-rata indeks pasar dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dengan kurs beli Bank Indonesia. Rentang periode harga acuannya mulai tanggal 25 pada tiga bulan sebelumnya sampai tanggal 24 pada bulan berjalan.

Jika mengacu data Bank Indonesia sejak 25 Juli hingga 22 September lalu, rupiah memang menunjukkan tren penguatan. Pada 25 Juli lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dengan kurs beli sebesar 13.201 per US$. Sedangkan pada 22 September mencapai 13.163 per US$ atau menguat 0,3 persen.  (Baca: BPK Minta Pertamina Setor Keuntungan Solar Subsidi Rp 3,1 T ke Negara)

Sedangkan harga minyak mentah berdasarkan data Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dari periode Juli hingga September 2016 cuma naik tipis. Pada Juli lalu harga minyak mencapai US$ 42,68 per barel, sementara pada September sebesar US$ 42,78 per barel.  

Grafik: Harga Premium di Indonesia 1970-2015

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha