Produsen Sampai Penjual Eceran Akan Kena Pajak Rokok

Penulis: Miftah Ardhian

Editor: Safrezi Fitra

20/12/2016, 17.28 WIB

Selama delapan tahun terakhir, jumlah industri rokok menyusut dari 4.669 pabrik menjadi hanya 713 pabrik saat ini.

Rokok
Arief Kamaludin|KATADATA
Rokok

Kementerian Keuangan berencana untuk menarik pajak pertambahan nilai (PPN) untuk produk rokok. Pajak ini akan dikenakan mulai dari produsen hingga pedagang eceran, seperti barang-barang lainnya. Selama ini, PPN rokok hanya dibebankan kepada produsen saja.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pihaknya tengah menggodok aturan terkait pajak ini. Alasannya, agar produk rokok ini memiliki perlakuan yang sama dengan barang lain, yang dikenakan pajak 10 persen hingga ke usaha hilir. Sampai saat ini, produk rokok hanya ditarik pajak sebesar 8,7 persen di tingkat produsennya saja.

"Hasil pemeriksaan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) mengatakan bahwa kalau tarifnya ditarik di ujung itu (seharusnya)  9,1 persen. Nah, ini yang masih kami persiapkan (aturannya)," ujar Suahasil usai acara pertemuan para ahli mengenai harga rokok, pembiayaan pembangunan, dan perwujudan Nawacita pemerintahan Jokowi-Kalla, yang diselenggarakan oleh Center for Health Economics and Policy Studies Universitas Indonesia (CHEPS UI), di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (20/12).

BKF belum bisa memastikan berapa besar tarif pajak yang akan dikenakan untuk rokok. Hal ini masih dalam tahap pembahasan yang nantinya akan diputuskan oleh Menteri Keuangan. Suahasil memperkirakan besarannya tidak akan jauh dari rekomendasi BPK, yakni 9,1 persen.

Meski begitu, saat ini Kementerian Keuangan masih melakukan negosiasi dengan para produsen industri rokok. Perusahaan-perusahaan rokok sebenarnya tidak menolak rencana kebijakan ini. Namun mereka mengaku kesulitan jika kebijakan ini dilakukan dalam waktu dekat.

Dari pihak industri rokok menyatakan masih membutuhkan waktu untuk pelaksanaannya. Setidaknya untuk mempersiapkan jalur distribusinya dan mendata penarikan pajak tersebut. "Mereka (industri rokok) meminta waktu dua sampai dengan tiga tahun," ujar Suahasil.

Sementara pemerintah berharap persiapan jalur distribusi ini bisa dilakukan dengan lebih cepat. Kementerian Keuangan akan terus melakukan diskusi lanjutan dengan industri rokok agar bisa segera mencapai kesepakatan. Suahasil mengaku tidak mengetahui secara pasti permasalahan apa yang dihadapi industri rokok selain persiapan jalur distribusi.

Setidaknya dengan terealisasinya kebijakan ini, semua pihak yang terlibat dalam proses produksi dan distribusi rokok akan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang benar.

Guru Besar UI Prof. Dr. Hasbullah Thabrany mengatakan dengan kebijakan ini pemerintah juga harus berfokus pada nasib para industri rokok kecil agar dapat bertahan dari adanya pajak serta cukai. Memang pemerintah juga memerlukan langkah-langkah untuk bisa menekan konsumsi rokok nasional. Namun, nasib industri kecil, pekerjanya, dan juga petani tembakau juga perlu mendapat perhatian.

Pengenaan cukai lebih rendah untuk rokok jenis sigaret kretek tangan (SKT) belum tentu cukup melindungi produsen rokok kecil dan para pekerjanya. "Tapi harus jelas juga bagaimana kita bisa bantu pengusaha kretek rendah, misalnya dengan transfer kerja seperti mendapat bimbingan dari pemerintah untuk pindah industri," ujar Hasbullah.

Sekadar informasi, BKF mencatat produksi rokok sejak 2013 hingga sekarang stagnan di angka 340 miliar batang. Tahun ini, diproyeksikan terjadi penurunan 1,3 persen atau sekitar 3 miliar batang. Selama delapan tahun terakhir, jumlah pabrik rokok pun menyusut, dari 4.669 pabrik menjadi hanya 713 pabrik saat ini.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan