Dana Terbatas, Pertamina Jadwal Ulang Proyek Kilang

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

7/6/2017, 15.01 WIB

"Kami mencoba reschedule ke belakang sedikit (proyek kilang), tapi tetap memenuhi target 2025."

Migas
Dok. Chevron

PT Pertamina (Persero) akan mengatur kembali jadwal operasi proyek kilang baru dan peningkatan kapasitas kilang. Penyebabnya, keterbatasan dana. Jika proyek tersebut dilaksanakan bersamaan maka akan memberatkan kondisi keuangan perusahaan.

Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik mengatakan, meski jadwalnya mundur Pertamina tetap mengusahakan sebelum 2025 sudah terbangun. "Kami mencoba reschedule ke belakang sedikit (proyek kilang), tapi tetap memenuhi target 2025," kata dia di Gedung DPR, Jakarta, Selasa malam (6/6).

(Baca: Iran Mengusik Dominasi Arab Saudi Garap Proyek Kilang Pertamina)

Beberapa proyek yang mengalami pemunduran jadwal adalah pembangunan kilang baru di Tuban, Jawa Timur, kemudian peningkatan kapasitas di Cilacap, Balongan dan Balikpapan. Sementara proyek kilang baru di Bontang, Kalimantan Timur dan peningkatan kapasitas kilang di Dumai, Jawa Barat, masih tetap sesuai jadwal.

No.

Proyek Kilang

Target Awal

Target Baru

1.

Tuban

2021

2024

2.

Cilacap

2021

2023

3.

Balongan

2020

2021

4.

Balikpapan Tahap 1

2019

2020

5.

Balikpapan Tahap 2

2020

2021

6.

Dumai

2023

-

7.

Bontang

2024

-

Sementara itu, Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Rachmad Hardadi mengatakan pengaturan ulang jadwal operasi kilang ini juga agar beban keuangan perusahaan tidak terlalu besar. “Supaya beban keuangannya tidak menumpuk,” ujar dia.

(Baca: Kuwait dan Tiongkok Calon Kuat Mitra Pertamina di Kilang Bontang)

Untuk menggarap proyek kilang tersebut, Pertamina membutuhkan dana sekitar US$ 36,27 miliar atau lebih dari Rp 471 triliun. Perinciannya, Kilang Balongan sebesar US$ 1,27 miliar, Kilang Balikpapan US$ 5,3 miliar, Kilang Cilacap US$ 4,5 miliar, dan Kilang Dumai US$ 4.2 miliar. Kemudian untuk kilang baru di Tuban harus menyiapkan dana US$ 13 miliar dan Kilang Bontang US$8 miliar.

Anggota DPR Komisi VII DPR Harry Poernomo sebelumnya pernah mempertanyakan proses pembangunan kilang Pertamina yang terkesan lambat. "Pak Direktur Utama katanya mau meninjau lagi masalah financial, ini kenapa. Saya mengartikannya semacam ada suspend," kata dia di sela-sela rapat dengar pendapat dengan Pertamina di DPR, Jakarta, Selasa (6/6).

Di sisi lain, kinerja Pertamina pada awal tahun ini tidak terlalu kinclong dibandingkan tahun lalu. Laba bersih BUMN energi ini tergerus akibat kenaikan harga minyak dan beban penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM).

(Baca: Tertekan Beban Penjualan BBM, Laba Pertamina Anjlok 24,7%)

Laba bersih Pertamina pada kuartal I tahun ini mencapai US$ 760 juta. Jumlahnya merosot 24,75 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar US$ 1,01 miliar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan