Daya Saing Indonesia Posisi 36 Dunia, Realisasi Investasi Masih Seret

Desy Setyowati
29 September 2017, 20:07
Pertumbuhan Ekonomi
Arief Kamaludin|KATADATA
Pembangunan gedung perkantoran di Jakarta

Daya saing Indonesia naik lima peringkat ke posisi 36 dunia menurut laporan World Economic Forum. Meski begitu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan realisasi investasi masih seret. Menurut pengalamannya, investor masih mempertanyakan kesiapan infrastruktur hingga kemudahan perizinan di dalam negeri.

Atas dasar itu, ia menjelaskan pemerintah perlu terus mengupayakan perbaikan-perbaikan agar minat investasi semakin banyak yang terealisasi. “Kami perlu memerhatikan dari faktor yang mempengaruhi investasi, seperti cost (biaya), kemudahan berusaha, maupun return (pendapatan) yang menarik bagi para investor," kata Sri Mulyani saat membuka seminar yang diselenggarakan Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKKPII) di Kantor Pertamina, Jakarta, Jumat (29/9).

Secara khusus, ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Menurut dia, SDM harus semakin diperlengkapi di tengah masifnya perkembangan teknologi. (Baca juga: Tak Hanya Perbankan, Pekerjaan Lain Berpotensi Hilang di Masa Depan)

Dalam laporan Global Competitiveness Index yang baru saja dirilis World Economic Forum, daya saing Indonesia tercatat telah membaik dengan naik lima peringkat ke posisi 36 dunia. Namun, posisi tersebut masih lebih rendah dari negara tetangga di ASEAN yaitu Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Ditemui di kesempatan berbeda, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan kenaikan peringkat daya saing menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi telah menuai hasil. (Baca juga: Kemenkeu Tekankan Insentif Pajak Tak Cukup Dongkrak Investasi)

"Kenaikan (peringkat daya saing) itu confirm upaya yang sudah dilakukan pemerintah," ucapnya. Ke depan, ia menekankan, pemerintah harus terus berfokus membangun infrastruktur, mememperbaiki kemudahan berbisnis, termasuk melakukan reformasi birokrasi dan meningkatkan kualitas SDM.

Ia pun menyambut baik kebijakan pemerintah yang menyegerakan pelaksanaan pendidikan vokasional secara masif untuk menghasilkan SDM yang andal di tengah perkembangan teknologi. "Daya saing itu salah satu kunci utamanya adalah peningkatan kualitas SDM," ujar dia.

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...