Belum Dibutuhkan, Pinjaman Kereta Cepat Akan Dicairkan Bulan Depan

Penulis: Miftah Ardhian

Editor: Yuliawati

6/10/2017, 18.04 WIB

Pencairan dana pinjaman untuk kereta cepat Jakarta-Bandung masih belum dibutuhkan saat ini.

Kereta Cepat
Arief Kamaludin|KATADATA
Pameran model kereta cepat produksi Cina di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung masih terus berlangsung. Proses pembebasan lahan dan penentuan lokasi yang membutuhkan waktu lama membuat proses konstruksi baru bisa dijalankan secara total pada bulan depan. Alhasil, pinjaman pencairan dana pinjaman dari China Development Bank (CDB) masih belum dibutuhkan saat ini.

Menteri BUMN Rini Soemarno menjelaskan, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ini memang masih terkendala pembebasan lahan dan finalisasi penentuan lokasi pembangunan rel kereta. Sebelumnya, jalur kereta cepat ini tadinya diharapkan bisa bersebelahan dengan jalur tol Jakarta-Bandung.

Namun, kontur jalannya terlalu banyak berkelok yang tentunya tidak cocok untuk jalur kereta cepat ini. "Kereta Cepat itu tidak boleh banyak belokannya, akhirnya jalurnya banyak sedikit menjauh. Hanya 43 km saja yang berdekatan, dan selebihnya menjauh," ujar Rini saat acara diskusi dengan media, di Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis malam (4/10).

(Baca: Jokowi Prioritaskan Jepang Garap Proyek Kereta Cepat Jakarta–Surabaya)

Akibat permasalahan ini, proses konstruksi pun belum bisa berjalan dengan optimal. Alhasil, kebutuhan dana untuk pembangunan proyek tersebut masih belum signifikan. Hal ini membuat dana pinjaman dari Tiongkok yang telah diselesaikan seluruh administrasinya belum dibutuhkan.

"Pinjaman baru bulan depan akan ditarik. Kami sudah selesaikan semua (persyaratan) dengan CBD," ujar Rini. Adapun, Rini meminta pencairan dilakukan bertahap, yakni sebesar US$ 500 juta sampai dengan US$ 1 miliar pada tahap pertama di November 2017. Alasannya, apabila pencairan berlebih, akan membuat beban bunga membesar.

Lebih lanjut, Rini menjelaskan, dalam proses konstruksi yang dimulai pada Oktober 2017 ini, setidaknya terdapat 22 terowongan yang akan dibangun akibat adanya perubahan lokasi pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Hal ini membuat kajian terhadap penggunaan lahan dan pekerjaan konstruksinya memakan waktu yang cukup lama.

Rini menyatakan, salah satu pembangunan terowongan yang memakan waktu paling lama adalah di kawasan Halim, Jakarta Timur yang membutuhkan waktu hingga 26 bulan. Akibatnya, penyelesaian proyek ini tidak dilakukan pada tahun 2019. "Mungkin baru akan selesai di Februari 2020," ujar Rini.

Reporter: Miftah Ardhian

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan