Nadiem Klaim Gojek Ciptakan Pekerjaan untuk Satu Juta Keluarga

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Yuliawati

26/10/2017, 19.56 WIB

Meski banyak penolakan dari angkutan konvensional, masyarakat lebih memilih transportasi online, seperti Gojek.

CEO Go-Jek Nadiem Makarim.
Arief Kamaludin | Katadata
CEO Go-Jek Nadiem Makarim.

CEO Gojek Nadiem Makarim mengklaim jika transportasi online saat ini dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Nadiem mengklaim lebih dari satu juta keluarga Indonesia yang pendapatan utamanya berasal dari ekosistem Gojek.

Perhitungan Nadiem berdasarkan 100 ribu restoran dan warung di 50 kota yang bermitra dengan Gojek. Selain itu, Gojek juga telah memiliki sekitar 500 ribu mitra pengemudi.

“Meskipun mitra, tapi secara indirect adalah employer di Indonesia sekarang. Lebih besar dari perusahaan swasta lainnya untuk bisa menafkahi,” kata Nadiem di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (26/10).

Nadiem mengatakan, meskipun banyak isu penolakan dari angkutan konvensional, namun kenyataannya jumlah transportasi online terus bertambah. Saat ini, kata Nadiem, jumlah transportasi online di Indonesia sudah mencapai satu juta unit. Sementara, jumlah taksi hanya sebesar 50 ribu taksi dan 200 ribu mikrolet.

(Baca juga: Tiga Bulan Lagi Go-Pay Jadi Alat Pembayaran E-commerce di Luar Gojek)

“Jadi sebenarnya industri transportasi perorangan di Indonesia sudah hampir seluruhnya online. Jadi itu sebuah transisi yang terjadi sangat pesat, tapi menciptakan ruang pekerjaan yang begitu besar,” kata Nadiem.

Nadiem pun mengklaim jika rata-rata pendapatan para pengemudi yang bermitra dengan Gojek mencapai Rp 4 juta. Menurut Nadiem, angka tersebut lebih tinggi bahkan dari upah minimum regional (UMR) DKI Jakarta yang sebesar Rp 3,3 juta.

“Itu baru rata-rata. Kalau dia bisa full time selama 10-12 jam sehari itu dia bisa menghasilkan Rp 6-8 juta,” ucap Nadiem. 

Dia menyebut tingginya pendapatan pengemudi Gojek karena lebih banyak konsumen yang berminat dengan transportasi online dibandingkan konvensional. Sebab, harganya yang bersaing lebih murah dibandingkan transportasi konnvensional sejenis.

 (Baca juga: Tak Hanya Perbankan, Pekerjaan Lain Berpotensi Hilang di Masa Depan)

“Ini konsep efisiensi, teknologi bukan apa-apa kecuali moda transportasinya yang ciptakan efisiensi sendiri. Karena dulu ojek berhenti bisa 10 jam, ambil order paling tiga kali. Dengan teknologi dari mana pun bisa ambil order 10 sampai 12 kali per hari. Harga ke konsumen pun jadi semakin kecil,” kata Nadiem.

Nadiem pun menilai transportasi online dapat menjadi solusi untuk mengatasi pengangguran. Sebab, Go-Jek memberikan jam kerja yang fleksibel terhadap mitra pengemudinya.

Dengan begitu, para pekerja di sektor formal dapat beralih untuk meraih pendapatan dengan menyambi sebagai pengemudi transportasi online. “Apalagi kalau sektor formalnya lagi lemah. Di sinilah informal economy menjadi buffer untuk take-over formal economy di Indonesia,” tutur Nadiem.

(Lihat Ekonografik: Modal Tiongkok Guyur Startup Lokal)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan