Target Investasi Hulu Migas Tahun Ini Diprediksi Tak Tercapai

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

27/10/2017, 17.23 WIB

"Jadi, persentase investasi akhir tahun ini lebih rendah," kata Amien.

Migas
Dok. Chevron

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memprediksi target investasi sektor hulu migas tahun ini sulit tercapai. Salah satu faktornya adalah mundurnya beberapa proyek migas.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan salah satu pengerjaan proyek migas yang mundur dari target adalah lapangan MBH di Blok Madura Strait. Seharusnya lapangan itu bisa beroperasi tahun ini, tapi mundur ke tahun depan karena proses pengadaan kapal pada proyek tersebut tertunda.

Faktor lainnya yang membuat investasi hulu migas tahun ini sulit tercapai adalah minimnya kegiatan di blok eksploras karena penurunan harga minyak. Alhasil, kontraktor mengurangi jumlah pengeboran sumur.

Selain itu investasi turun karena ada beberapa kontraktor yang mengalami kesulitan pendanaan. "Jadi, persentase investasi akhir tahun ini lebih rendah," kata Amien di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (27/10).

Berdasarkan data SKK Migas sejak awal tahun hingga kuartal III 2017, investasi hulu migas totalnya mencapai US$ 5,57 miliar atau sekitar Rp 76 triliun atau di bawah target yakni US$ 22,2 miliar. Rinciannya kegiatan eksplorasi sebanyak US$ 245 juta, kegiatan pengembangan sebanyak US$ 393 juta, kegiatan produksi sebanyak US$ 4,4 miliar dan kegiatan administrasi sebanyak US$ 432 juta.

Jika dilihat trennya, investasi hulu migas terus menurun sejak 2014. Pada tahun tersebut, investasi hulu migas bisa tembus US$ 20 miliar. Namun pada 2015 turun menjadi US$ 15,3 miliar, lalu pada tahun lalu anjlok lagi menjadi US$ 11,56 miliar. 

Untuk mendorong investasi migas, Kementerian ESDM telah menyiapkan beberapa langkah. Di antaranya adalah mengeluarkan regulasi baru yakni Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 8 tahun 2017 yang sudah direvisi Permen ESDM Nomor 52 tahun 2017, dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2017.

Ada juga beberapa upaya lain. Upaya itu adalah mendorong efisiensi pengelolaan biaya, mempercepat dan mengefektifkan eksplorasi dan eksploitasi, dan mendorong pengembangan dan penguatan industri dalam negeri.

Sementara itu capaian penerimaan negara sejak awal tahun hingga September 2017 sudah mencapai US$ 9,59 miliar, atau di bawah APBNP 2017 sebesar US$ 12,20 miliar. “Penerimaan ini kan ingin setinggi-tingginya," kata Amien.

Adapun realisasi cost recovery hanya sebesar US$ 7,76 miliar atau Rp 104 triliun. Angka ini masih di bawah APBNP 2017 yang dipatok US$ 10,7 miliar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan