Segera Dijual, Jalan Tol Becakayu Sudah Diminati Investor Lokal

Penulis: Miftah Ardhian

Editor: Yuliawati

7/11/2017, 17.49 WIB

Waskita bakal menjual tol Becakayu, karena selama ini perusahaan hanya bergerak sebagai kontraktor, bukan operator jalan tol.

Jokowi
www.setkab.go.id
Presiden Joko Widodo meresmikan selesainya pembangunan Tol Becakayu Seksi I B dan I C (Cipinang - Jakasampurna), Jumat (3/11).

PT Waskita Karya (Persero) Tbk menyatakan akan segera menjual Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) Seksi I B dan I C (Cipinang - Jakasampurna) yang baru saja rampung dan akan mulai beroperasi akhir pekan ini. Perusahaan pelat merah ini mengklaim tol tersebut telah diminati oleh investor lokal dan segera menuju tahap negosiasi.

Direktur Keuangan Waskita Tunggul Rajagukguk menjelaskan, pihaknya memang berencana untuk melepas atau menjual seluruh jalan tol yang dimilikinya saat ini, sebanyak 18 ruas jalan tol. Namun, dalam perekembangannya, ruas tol yang sudah diminati dan memiliki peluang terealisasi lebih besar adalah tol Becakayu.

Tunggul menyatakan, telah ada investor yang berminat dan segera melakukan penawaran. "Kalau Becakayu (yang berminat membeli) investor lokal," ujar Tunggul saat ditemui di Hotel Ritz-Charlton, Jakarta, Selasa (7/11).

(Baca: Baru Diresmikan Jokowi, Tol Becakayu Akan Segera Dijual)

Waskita bakal menjual tol Becakayu, karena selama ini tak pernah menjalankan bisnis sebagai operator jalan tol, hanya sebagai kontraktor. Investor yang membeli tol ini pun akan mendapatkan arus kas (cashflow) dari tarif yang ditetapkan yakni Rp 14 ribu yang akan mulai diberlakukan pada pertengahan bulan ini.

Beberapa ruas tol yang akan dijual adalah beberapa ruas di sepanjang tol Trans Jawa, meliputi Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, Pemalang-Batang, Batang-Semarang, Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, dan Pasuruan-Probolinggo. Sedangkan, ruas tol lainnya yakni di Palembang yaitu Sriwijaya Makmur Toll Road dan ruas Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi.

"Target dana sekitar Rp 10 triliun. Tapi Becakayu masih belum fix, tergantung kami nanti negosiasi dengan calon investor," ujarnya. (Baca: BUMN Harus Mengerjakan Proyek yang Tak Diminati Swasta)

Tunggul berharap, penjualan 10 ruas tol ini bisa direalisasikan pada 2017. Sehingga, dapat menopang target penjualan tahun 2017 yang sebesar Rp 45 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 3,6 triliun. Hasil penjualan tol ini juga akan masuk ke ekuitas perusahaan agar keuangan Waskita menjadi lebh sehat. Baru kemudian dalokasikan kembali untuk belanja modal dan pembangunan tol-tol baru.

Memang, belakangan ini, Tunggul mengakui, pelaku pasar memiliki konsentrasi terhadap ekuitas perusahaan. "Utang banknya kalau sekarang kan sebenernya kalau interesting pairing deep equity masih di bawah dua, tapi kalau kami terus ekspansi dan tidak ada penambahan equity dapat naik," ujarnya.

Selain itu, pelaku pasar juga menyoroti cashflow perusahaan yang cenderung negatif jika melihat dari sisi operasi. Namun, hal tersebut bisa didukung dari pendanaan seperti kredit yang diberikan perbankan. Alasan cashflow yang negatif ini juga karena pengerjaan proyek yang mendapat pembayaran di akhir ketika proyek tersebut rampung dikerjakan.

Sehingga, dengan kondisi ini dan keterbatasan sumber daya, Tunggul mengatakan, pertumbuhan kontrak baru milik Waskita akan landai di tahun depan. Di akhir tahun ini, perolehan kontrak baru sekitar Rp 60 triliun. 

(Baca: Divestasi Terganjal, Waskita Siapkan 3 Alternatif Pembiayaan)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan