Ada Anomali Ekonomi, Darmin Revisi Proyeksi Pertumbuhan Jadi 5,1%

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Martha Ruth Thertina

9/11/2017, 17.55 WIB

"Memang sebetulnya di ekonomi Indonesia beberapa hal belum bisa dijelaskan dengan cukup baik."

Gedung Perkantoran
Arief Kamaludin|KATADATA
Gedung-Gedung pusat perkantoran dan bisnis di Jakarta

Pertumbuhan ekonomi tahun ini berpeluang besar meleset dari target 5,2%. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan tengah terjadi anomali dalam perekonomian Indonesia, di antaranya dalam hal daya beli dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Darmin menjelaskan, inflasi berada di level yang rendah. Artinya, pendapatan masyarakat menengah bawah semestinya tidak tergerus kenaikan harga. Di sisi lain, tabungan masyarakat menengah atas meningkat.

Dengan demikian, semestinya daya beli positif. Namun, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh kurang dari 5%. (Baca juga: Tabungan Orang Kaya Naik, Sri Mulyani Masih Ragu Daya Beli Lemah)

Adapun sejumlah pengusaha retail menggeser bisnisnya menjadi berbasis online lantaran melihat belanja online tengah berkembang. Hal ini kemudian mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. "Memang sebetulnya di ekonomi Indonesia beberapa hal belum bisa dijelaskan dengan cukup baik," kata Darmin di Jakarta, Kamis (9/11). (Baca juga: Nielsen: Penjualan Turun Akibat Daya Beli Lemah, Bukan Tren Online)

Anomali lainnya, menurut Darmin, yaitu tentang pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Padahal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung naik bahkan sudah menembus level 6.000. Dugaan dia, hal itu terjadi karena investor memindahkan dananya dari perbankan ke pasar modal untuk mengejar imbal hasil yang lebih tinggi.

Dana yang dimaksud termasuk dana hasil repatriasi program amnesti pajak. "Pengalaman kami, kekuatan demand dalam negeri tanpa ada pengaruh tax amnesty (masih positif). Meskipun tidak cukup kuat untuk membuat arah perkembangan kurs dan IHSG berbeda (seperti sekarang ini),” ujarnya.

Menurut dia, pemerintah akan mengkaji perubahan-perubahan yang tengah terjadi saat ini. Adapun target pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,2% tampaknya bakal meleset. Prediksi optimistis Darmin, pertumbuhan ekonomi 5,1%. (Baca juga: Pemerintah Gencar Salurkan Bansos untuk Dongkrak Daya Beli)

Prediksi tersebut dengan mempertimbangkan investasi swasta dan ekspor yang diyakini masih akan tumbuh positif. Di sisi lain, belanja pemerintah kemungkinan akan sedikit tertekan di akhir tahun karena faktor penerimaan negara yang masih rendah. (Baca juga: Setelah Rokok Elektrik, Tiga Barang Ini Dibidik Kena Cukai Tahun Depan)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan