Riset UGM: Manfaat Mobile Internet Terhadap Ekonomi Masih Rendah

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Martha Ruth Thertina

9/11/2017, 15.56 WIB

Kelompok masyarakat ekonomi bawah mulai memanfaatkan mobile internet untuk menambah pundi-pundi keuangannya.

Internet desa
Donang Wahyu|KATADATA
Petani mencoba koneksi internet menggunakan wifi di tengah persawahan di desa Melung, kecamatan Kedung Banteng, Banyumas, Jawa Tengah.

Para peneliti Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan kelompok masyarakat ekonomi bawah mulai memanfaatkan mobile internet untuk menambah pundi-pundi keuangannya. Meski begitu, berdasarkan hasil riset, dampak penggunaan mobile internet terhadap ekonomi Indonesia masih rendah, dan di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia.

Deputy Director Economics and Business Research and Development Agency UGM Artidiatun Adji mengatakan, teknologi internet digunakan masyarakat bawah di antaranya untuk memasarkan barang dagangan (online shop) ataupun menjadi ojek online. Ia pun menduga, pengeluaran masyarakat bawah untuk mengakses internet semakin tinggi. (Baca juga: Bappenas: Bisnis Online Bisa Pengaruhi Jumlah Kemiskinan)

"Misal, buruh pabrik atau pegawai bengkel yang punya jam (kerja) reguler lalu di atas pukul 16.00 WIB mereka memanfaatkan mobile internet untuk menjual dagangannya. Itu memberi potensi kenaikan pendapatan," kata Artidiatun saat konferensi pers terkait hasil riset dampak mobile internet terhadap pengembangan ekonomi dan sosial di Penang Bistro, Jakarta, Kamis (9/11).

Meski pemanfaatan mobile internet untuk kegiatan ekonomi meningkat, Artidiatun mengatakan, dampaknya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia lebih rendah 0,03% dari Malaysia. Posisi Indonesia setara dengan India dan Thailand.

Dugaannya, hal itu terjadi karena Malaysia sudah lebih siap dalam hal infrastruktur dan kebijakan tekait pengembangan internet. "Kami menduga ada faktor infrastrukrur dan suprainfra seperti kebijakan atau respon pemerintah terhadap berkembangnya internet ataupun iklim usaha lebih bagus di Malaysia," kata dia. 

Ia pun mencontohkan, survei mengenai perkembangan internet di Indonesia baru dilakukan pada 2015. Padahal, negara lain, termasuk Malaysia sudah melakukannya jauh lebih cepat. Tak ayal, Malaysia sudah lebih siap dalam hal data untuk mendukung kebijakan. (Baca juga: Kemenaker Kembangkan Pelatihan di Bidang Teknologi Informasi)

Adapun di Indonesia, ia menilai diperlukan intervensi pemerintah untuk mendorong pemanfaatan teknologi internet. Sebab, dari hasil diskusi dengan reponden, tim peneliti menemukan bahwa masyarakat belum sepenuhnya siap secara budaya untuk menghadapi perkembangan teknologi. 

Dari hasil riset, tim peneliti menemukan dampak mobile internet terhadap peningkatan PDB lebih besar di negara-negara berpendapat menengah rendah hingga tinggi dibandingkan negara berpendapatan rendah.

Adapun di Indonesia, setiap kenaikan jumlah pelanggan telepon seluler sebesar 10%, diikuti dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,4%. Efek tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata di negara Asia Tenggara yang hanya 0,2%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan