Seorang berinisial WT diduga membeli klaim pelapor puluhan kali lipat sehingga mencabut laporan kepada mantan Dirut dan Manajer Klaim Allianz.
Petugas Medis
Ilustrasi kegiatan petugas medis. Antara

Mantan Direktur Utama Allianz Life Joachim Wessling dan Manajer Klaim Yuliana Firmansyah kembali dilaporkan atas dugaan pelanggaran konsumen. Keduanya dilaporkan oleh Mario Sastra Wijaya dan Sulaeman.

Laporan Mario teregister dengan Nomor LP 5418/XI/2017/PMJ/Dit Reskrimsus per tanggal 7 November 2017. Sementara, laporan Sulaeman teregister dengan Nomor LP 5469/XI/2017/PMJ/Dit Reskrimsus per tanggal 9 November 2017.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Kuasa hukum Mario dan Sulaeman, Alvin Lim mengatakan, keduanya melaporkan Joachim dan Yuliana karena diduga mempersulit klaim nasabah dengan meminta rekam medis lengkap. Padahal, pasien tidak bisa meminta rekam medis lengkap, melainkan hanya resume medis.

"Permintaan ini melanggar hukum karena bertentangan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/PER/III Tahun 2008 tentang Rekam Medis," kata Alvin di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (14/11).

(Baca: Anggap Klaim Tak Wajar, Alasan Allianz Minta Rekam Medis ke Nasabah)

Dalam laporan ini Mario disebut akan rugi sebesar Rp 25,5 juta jika klaim ke Allianz tidak bisa dicairkan. Sementara, kerugian Sulaeman sebesar Rp 40,5 juta jika klaimnya tidak dicairkan.

Alvin mengatakan, izin usaha Allianz Indonesia dapat dicabut jika terbukti bersalah dalam kasus ini. Sebab, dalam kasus ini pelapor mencantumkan pasal pidana korporasi.

Keduanya menggunakan Pasal 8 ayat (1) huruf F, Pasal 10 huruf C, Pasal 18 (1) huruf G juncto Pasal 62 dan 63 huruf F Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pihak Allianz belum memberikan komentar mengenai laporan kembali kepada mantan Dirut dan Manajer Klaim Allianz.

Menurut Alvin, laporan Mario dan Sulaeman sama persis dengan yang pernah diajukan  klien sebelumnya, yakni Ifranius dan Indah Goena. Dalam laporan Ifranius dan Indah, Joachim dan Yuliana telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun laporan itu dicabut setelah klaim Ifranius dan Indah dibeli oleh pihak ketiga berinisial WT dengan total nilai mencapai miliaran rupiah.

Padahal, ilai gugatan Ifranius dan Indah kepada Allianz masing-masing senilai Rp 16,5 juta dan Rp 9 juta.  "Puluhan kali lipat pembayaran klaimnya, dalam klausul kontrak, pelapor harus mencabut laporan dan kasus ditutup," kata Alvin.  (Baca: OJK Akan Panggil Industri Asuransi Terkait Kasus Mantan Dirut Allianz)

Berbeda dengan keterangan Alvin, Allianz menyatakan alasan polisi telah mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) karena tak cukup bukti.  "Berdasarkan pada fakta-fakta dan berbagai keterangan yang telah kami ajukan kepada pihak berwajib, maka penyidikan terhadap dua mantan eksekutif Allianz Life yaitu Joachim Wessling dan Yuliana Firmansyah telah dihentikan karena tidak cukup bukti," dalam siaran pers yang dirilis Allianz. 

Allianz menyebutkan SP3 kasus tergister dalam Nomor: SPPP/192/XI/2017/Dit Reskrimsus dan Nomor: S. Tap/194/XI/2017/Dit Reskrimsus pada 9 November 2017 dan Nomor: S. Tap/195/XI/2017/Dit Reskrimsus pada 10 November 2017.

 

Artikel Terkait
Selain mengusut dugaan korupsi NJOP pulau reklamasi, polisi akan menyelidiki dampak lingkungan.
Pencegahan Setya Novanto ke luar negeri dianggap penting memperlancar penanganan kasus korupsi e-KTP.
Polisi belum dapat memastikan mantan Dirut Allianz masih berada di Indonesia atau di luar negeri.