Google: Ekonomi Digital Indonesia Capai Rp 1.095 Triliun pada 2025

Penulis: Michael Reily

Editor: Pingit Aria

21/11/2017, 19.04 WIB

Tiket.com berupaya mendapat porsi besar dari pasar travel digital yang dalam 7 tahun diprediksi mencapai US$ 25 miliar atau sekitar Rp 338,25 triliun.

Google digital
Arief Kamaludin (Katadata)

Google memprediksi Indonesia bakal menjadi negara dengan ekonomi digital paling tinggi di Asia Tenggara pada 2025. Saat itu, nilai ekonomi digital bakal sebesar US$ 81 miliar atau sekitar Rp1.095,93 triliun.

Country Industry Head of Google Indonesia Henky Prihatna mengungkapkan, dari jumlah itu, kontribusi travel online sebanyak US$ 25 miliar atau sekitar Rp 338,25 triliun. Maka, pelaku usaha harus membuat ekosistem yang kompetitif untuk memicu masyarakat.

“Sebab, pencarian tentang travel di Google sudah meningkat pesat,” kata Henky kepada wartawan di Jakarta, Selasa (21/11).

Dengan besarnya potensi pasar yang ada, Tiket.com menargetkan pertumbuhan 100% setiap tahun. Chief Communication Officer tiket.com Gaery Undarsa menyatakan, berbagai pihak digandengnya untuk mencapai target tersebut.

Tiket.com misalnya, menjadi mitra satu-satunya Kementerian Pariwisata untuk mengembangkan potensi obyek wisata di daerah-daerah yang belum banyak dikunjungi. “Pada 2020, potensi pertumbuhan pariwisata nasional sebesar 19%,” kata Gaery.

Selain itu, Tiket.com juga bekerja sama dengan lebih dari 50 maskapai penerbangan domestik dan internasional. Mitra penginapan juga ditargetkan bakal bertambah menjadi 10 ribu dari sekarang yang hanya 4.500.

Tahun depan, jumlah unduhan aplikasi mencapai 10 juta dari posisi sekarang 4,3 juta pengguna. Total transaksi yang saat ini sebesar15 ribu setiap harinya tahun depan diharapkan mencapai dua kali lipat. “Untuk musim liburan, ekspektasi kami sampai tiga kali lipat,” tutur Gaery.

(Baca juga:  Isi Kekosongan Toko Retail, Artotel Ekspansi Hotel dalam Mal)

Tiket.com pun meluncurkan desain aplikasi baru untuk gawai ponsel pintar. Tercatat, penggunaan aplikasi meningkat dari tahun ke tahun dari keseluruhan pemesanan tiket. Pada 2015 hanya 5%, meningkat jadi 30% tahun 2016, lalu melonjak lebih dari 50% tahun 2017.

“Semua pasti akan fokus ke aplikasi mobile, kami akan melihat kebutuhan masyarakat,” kata Gaery.

Sejalan dengan peningkatan layanan produk, kampanye pemasaran juga dilakukan untuk menggaet pengguna baru. Selain itu, peningkatan kapasitas layanan juga diharapkan bisa menarik pengguna dari kompetitor.

Menurut riset Google, lama waktu buka lebih dari 3 detik membuat 70% pengguna jasa pemesanan tiket online pergi meninggalkan laman atau aplikasi tertentu. Sebaliknya tambahan kecepatan hanya 1 detik bisa menambah tingkat bertahan pengunjung sebanyak 25%.

(Baca juga:  KAI Siapkan 20 Kereta Tambahan pada Liburan Natal dan Tahun Baru)

Chief Executive Officer (CEO) tiket.com George Hendrata menyatakan, pelaku usaha harus memikirkan apa yang dibutuhkan konsumen sebelum mereka tahu kebutuhannya. “Jika paling bagus, kami akan jadi top of mind di online travel,” ujar George.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan