Menkominfo Tak Akan Blokir Layanan Airbnb, tapi Diatur

Penulis: Michael Reily

Editor: Pingit Aria

29/11/2017, 18.49 WIB

Pengamat meminta pengusaha hotel konvensional beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang ada.

Rudiantara
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Menkominfo Rudiantara saat pembukaan Indonesia E-Commerce Expo di Indonesia Convention Exibation (ICE), Serpong, Tangerang, Banten, Selasa (9/5).

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan tidak ada rencana pemblokiran penyedia layanan akomodasi berbasis digital seperti Airbnb. Menurutnya, hal ini telah dibahas dengan Menteri Pariwisata Arief Yahya.

“Tidak ada rencana pemblokiran Airbnb,” kata Rudiantara saat dihubungi Katadata, Rabu (29/11).

Menurutnya, disrupsi digital merupakan hal yang lazim terjadi, contohnya pada industri transportasi. Oleh karena itu, model bisnis digital pada industri penginapan di Indonesia juga harus diatur, bukan ditutup.

Plt. Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Komunikasi dan Informatika Noor Riza menyatakan pemblokiran untuk aplikasi digital telah diatur dalam Peraturan Menkominfo Nomor 19 Tahun 2014. Salah satu alasan pemblokiran adalah memuat konten yang negatif. Hal tersebut, sejauh ini belum ditemukan pada aplikasi Airbnb, dan sejenisnya

Di pihak lain, Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Rainier Daulay meminta agar regulasi dibuat sesegera mungkin. Ia menginginkan adanya kejelasan dalam perizinan, hingga pajak sehingga pemilik properti yang menyewakan akomodasi melalui aplikasi diperlakukan sama dengan hotel konvensional. “Harus ada regulasi secepatnya supaya bisnis bisa berjalan,” tutur Rainier.

Ia mengungkapkan, Airbnb berpotensi menghilangkan pendapatan negara. Selain pajak, lapangan pekerjaan yang disediakan hotel konvensional juga bakal tergerus.

(Baca juga: Omzet Airbnb di Indonesia Tembus Rp 1 Triliun, Pengusaha Hotel Gerah)

Menurut data PHRI, Bali menempati peringkat ke-11 pemesanan Airbnb. “Padahal, APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Bali paling banyak berasal dari sektor pariwisata,” ujar Rainier.

Sementara, pengamat teknologi informasi Ruby Alamsyah meminta pengusaha hotel konvensional untuk berkompromi dengan ekonomi digital. “Bentuk dari kompromi, kita semua pada akhirnya bakal ikut teknologi, termasuk hotel,” kata Ruby.

Ruby mengungkapkan, PHRI seharusnya juga bisa memanfaatkan celah yang tidak dikuasai pengguna Airbnb, yakni masyarakat yang sudah percaya pada sistem hotel konvensional. “Tidak semua pasar dikuasai oleh Airbnb,” ujarnya.

(Baca juga: Pengusaha Siap Bantu Pemerintah Raih Target 20 Juta Turis di 2019)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan