Inflasi November Melonjak, Pemerintah Proyeksi Akhir Tahun Capai 3,1%

Penulis: Miftah Ardhian

Editor: Safrezi Fitra

4/12/2017, 17.50 WIB

Pemerintah telah menyusun strategi untuk meredam kenaikan angka inflasi di akhir tahun.

Darmin Sri Mulyani
Arief Kamaludin | Katadata

Pemerintah memproyeksikan laju inflasi Indonesia sepanjang tahun ini akan berada di kisaran 3,1 persen. Meski telah mengalami kenaikan cukup signifikan pada bulan lalu, pemerintah telah menyusun strategi untuk meredam kenaikan angka inflasi di akhir tahun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan hal yang masih perlu diwaspadai agar inflasi tidak melonjak tinggi adalah dari sektor pangan. Pasokan pangan harus dijaga mengingat adanya isu cuaca dan juga soal serangan hama. Pemerintah juga akan menjaga lonjakan harga pangan pada akhir tahun. 

"Mungkin inflasi sampai akhir tahun 3,1 persen kira-kira," ujar Darmin saat ditemui di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Senin (4/11).

Dia mengaku optimistis laju inflasi akan berada di bawah 3,5 persen. Menurutnya, inflasi November yang melonjak menjadi 0,20 persen ini hanya akan menaikan inflasi sepanjang tahun ini sebesar 2,8-2,9 persen. Alhasil, di sisa satu bulan terakhir tahun 2017 ini, diproyeksi hanya akan mengalami inflasi tambahan sekitar 0,20 persen.

Pemerintah juga terus mencoba mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dia menekankan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2017 hanya akan berada di angka 5,1 persen. "Malah mungkin 5,08 persen atau 5,09 persen, ya 5,1 persen lah kalau dibulatkan," ujarnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, pemerintah akan terus menjaga angka inflasi sampai akhir tahun ini. Memang, di akhir tahun atau di bulan Desember biasanya ada tekanan dari sisi permintaan. Inflasi di bulan Desember pun diprediksi akan tetap mengalami kenaikan.

"Tapi kami tidak berharap bahwa inflasi itu berasal dari faktor yang sifatnya cost plus seperti komoditas. Jadi, pasti Menteri terkait terutama yangs elama ini telah jaga pangan stabil akan melanjutkan sampai tahun depan," ujarnya. (Baca: Cuaca Ekstrem Kerek Harga Pangan, Inflasi November Capai 0,20%)

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga mengatakan pemerintah harus mengantisipasi cuaca ekstrim. Ini bisa menyebabkan adanya permasalahan dari sisi transportasi, sehingga distribusi logistik tertahan. Alhasil, sisi suplai barang pun bermasalah. Pemerintah harus terus menjaga konektivitas arus barang, sehingga inflasi tidak meningkat tinggi. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada bulan November 2017 sebesar 0,20 persen. Faktor utamanya kenaikan harga pada semua komponen pengeluaran masyarakat. Terutama pada bahan pokok akibat cuaca ekstrim yang menyebabkan bencana banjir di berbagai daerah.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, cabai merah, beras, dan bawang merah, masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen, 0,03 persen, dan 0,02 persen. Ketiganya merupakan kontributor inflasi terbesar dalam kelompok bahan makanan.

Bahan makanan secara keseluruhan menjadi penyumbang porsi inflasi hingga 0,37 persen pada bulan lalu. "Kenaikan harga karena pengaruh musim, hujan besar yang terjadi pada November," kata Suhariyanto. (Baca juga:  Kemendag Waspadai Dampak Bencana Terhadap Inflasi)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan