Genjot Industri, Kemenperin Klaim Tingkatkan Sinergi dengan Pengusaha

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Yuliawati

8/12/2017, 16.56 WIB

Airlangga menyatakan kementeriannya terus berupaya meningkatkan daya saing industri nasional agar semakin kompetitif di kancah global.

Wintor
ANTARA FOTO/HO/Hilman
Presiden Joko Widodo (kanan) mencoba alat angkut perkebunan Wintor, dihadiri Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto.

Kementerian Perindustrian menyatakan komitmennya untuk meningkatkan sinergi dengan dunia usaha. Langkah ini dilakukan untuk mendorong industri nasional memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi.

"Selain berperan penting menjadi penggerak ekonomi, industri juga membawa multiplier effect melalui peningkatan terhadap nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Jumat (8/12).

Airlangga menyatakan kementeriannya terus berupaya meningkatkan daya saing industri nasional agar semakin kompetitif di kancah global. Salah satu program strategis yang telah dilaksanakan, antara lain hilirisasi industri berbasis agro dan tambang mineral.

(Baca: Indonesia – Korea Selatan Kerja Sama Kembangkan 9 Sektor Industri)

Airlangga mengatakan, melalui program tersebut jumlah ragam produk hilir kelapa sawit telah bertambah menjadi 154 produk pada periode 2015-2017 dari sebelumnya 126 produk pada 2014. Peningkatan tersebut diikuti pula oleh rasio ekspor produk turunan kelapa sawit dari 66% menjadi 78%.

“Di sektor logam, pada periode tahun 2015-2017 telah berproduksi industri smelter terintegrasi dengan produk turunannya berupa stainless steel dengan kapasitas dua juta ton. Jika dibandingkan tahun 2014, hanya mencapai 65 ribu ton produk setengah jadi berupa feronikel dan nickel matte,” kata Airlangga.

Airlangga juga menyebut kementeriannya tengah memacu pengembangan sektor padat karya berorientasi ekspor, antara lain industri alas kaki, tekstil dan produk tekstil, makanan dan minuman, furnitur kayu dan rotan, serta industri kreatif.

“Kami telah mengusulkan agar sektor ini mendapatkan insentif fiskal berupa pemotongan pajak penghasilan yang digunakan untuk reinvestasi,”kata dia.

(Baca juga:  Menperin Bujuk Lotte untuk Percepat Investasi Kimia)

Kemenperin juga berjanji akan memberikan tax allowance untuk sektor padat karya yang perhitungannya berbasis kepada jumlah tenaga kerja. Airlangga juga telah mengajukan pemberinan insentif fiskal bagi industri yang mengembangkan pendidikan vokasi dan pusat inovasi.

Untuk industri yang melaksanakan program vokasi, akan mendapat insentif pajak 200%. Sementara, industri yang membangun pusat inovasi akan mendapat insentif pajak 300%.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani mengatakan, peran sektor industri harus terus ditingkatkan karena dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Upaya ini tidak hanya dilakukan oleh Indonesia.

Menurut Rosan, banyak negara termasuk di kawasan Asia Tenggara telah melakukan hal yang sama. Namun menurut Rosan, pengusaha atau asosiasi tidak bisa bekerja sendiri dalam meningkatkan peran industri.

"Kerja sama dan peran pemerintah pun dibutuhkan untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi oleh sektor yang memberikan kontribusi terbesar bagi perekonomian," kata Rosan.

(Baca: Pabrik Mattel di Bekasi Pasok 60% Boneka Barbie untuk Pasar Global)

Rosan menilai saat ini diperlukan adanya perbaikan krusial dalam mendukung terwujudnya industri berkelanjutan. Hal tersebut terutama menyangkut ketersediaan bahan baku, pemanfaatan komponen lokal, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan memperdalam struktur industri berdaya saing.

“Industri adalah fondasi bagi pembangunan ekonomi nasional secara menyeluruh. Maka perbaikan struktur ekonomi Indonesia tidak bisa lepas dari upaya memperbaiki struktur industri guna menempatkan sektor industri sebagai motor perekonomian,” kata Rosan.

Badan Pusat Statistik mencatat, industi pengolahan non migas memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan III tahun 2017 dengan mencapai 17,76%. Adapun pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada triwulan III/2017 sebesar 5,49% atau di atas pertumbuhan ekonomi 5,06%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan