Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Mulai Dibangun 2019

Penulis: Miftah Ardhian

Editor: Safrezi Fitra

12/12/2017, 20.30 WIB

"Pak Presiden (Jokowi) sih inginnya sebelum masanya habis di 2019 sudah groundbreaking. Kami kejar semoga bisa," kata Atmadji

Proyek pembangunan kereta cepat (high speed train/HST) Jakarta-Surabaya memang masih dalam tahap kajian. Namun, rencananya proses peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek ini akan dilakukan sebelum masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) selesai di tahun 2019 mendatang.

Tenaga Ahli Bidang Politik dan Media Menteri Koordiator Bidang Kemaritiman Atmadji Sumarkidjo mengatakan saat ini pemerintah memang masih belum memutuskan teknologi yang akan digunakan dalam membangun proyek ini. Pemerintah merasa masih perlu meminta kajian dari pihak lain.

Pembangunan awal proyek ini ditargetkan bisa dimulai pada 2019. "Pak Presiden (Jokowi) sih inginnya sebelum masanya habis di 2019 sudah peletakan batu pertama atau groundbreaking. Kami kejar semoga bisa," ujarnya saat media briefing di ruang pertemuan Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (12/12).

(Baca: Adu Jepang dan Korsel, Kajian Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Maret 2018)

Pemerintah akan mengambil keputusan mengenai skema pembangunan proyek tersebut pada Maret 2018. Butuh waktu tambahan untuk membandingkan hasil kajian dari Korea Selatan (Korsel), Jepang dan juga Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Terdapat dua opsi yang dipertimbangkan yakni antara narrow gauge dan standard gauge.

Atmadji menyatakan, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan lebih condong menggunakan teknologi standard gauge. Alasannya, teknologi ini diklaim lebih maju dibandingkan narrow gauge. Di dunia pun, hanya tinggal Indonesia, Jepang, dan Australia yang menggunakan teknologi narrow gauge.

Dengan standard gauge, kereta ini bisa menempuh Jakarta-Surabaya hanya dengan waktu 3,5 jam karena memiliki kecepatan 200 km/jam. Namun, memang, biaya yang di keluarkan untuk menggunakan teknologi tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan narrow gauge.

(Baca: Jepang Usul Kereta Semicepat Jakarta-Surabaya Pakai Rel Baru)

Sementara itu, dari hasil pra-studi kelayakan yang dilakukan Japan International Cooperation Agency (JICA), dengan menggunakan sistem narrow gauge. Dengan sistem ini  jarak 748 kilometer Jakarta - Surabaya akan ditempuh dalam waktu 5,5 jam dengan kecepatan rata-rata 160 kilometer. 

Asisten Deputi 3 Bidang Koordinasi Infrastruktur Konektivitas dan Sistem Logistik Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Rusli Rahim menjelaskan nilai dan skema investasi proyek ini belum ditentukan. Namun, secara garis besar, mekanisme pendanaannya akan melibatkan pihak swasta sebagai investor.

Akan tetapi, karena proyek infrastruktur Kereta Api merupakan aset negara, maka akan ada dana yang juga akan di keluarkan pemerintah. "Pasti akan ada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di situ," ujar Rusli.

Rusli mengatakan kajian yang dilakukan Korsel ini untuk melihat apakah nilai investasi bisa lebih efisien dengan teknologi yang terbaik. Sementara, bersasarkan kajian JICA dan BPPT nilai investasi yang harus di keluarkan untuk proyek ini dengan double track standart gauge, dan jalur layang (flyover) sebesar Rp 153,01 triliun.

(Baca: Kajian Kereta Semicepat Jakarta – Surabaya Akan Dievaluasi Pihak Lain)

Adapun untuk single track standart gauge, existing track, dan flyover sebesar Rp 92,2 triliun. Lalu, untuk single track narrow gauge dan existing track, serta flyover sebesar Rp 88,15 triliun. Terakhir, dengan menggunakan existing track upgrading (narrow gauge) dan flyover adalah sebesar Rp 57,7 triliun.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan