Permintaan Tinggi, Harga Cabai dan Telur Melonjak Jelang Tahun Baru

Penulis: Michael Reily

Editor: Pingit Aria

29/12/2017, 13.54 WIB

Pemerintah mewaspadai dampak kenaikan harga terhadap inflasi.

ilustrasi pasar tradisional
Arief Kamaludin|KATADATA

Harga cabai dan telur terus meningkat menjelang tahun baru. Tren kenaikan harga yang terjadi sejak menjelang Natal itu membuat pemerintah mewaspadai ancaman inflasi.

Di Pasar Induk Kramat Jati, harga cabai rawit sudah mencapai Rp 40 ribu per kilogram dari normalnya sekitar Rp 25 ribu per kilogram. Tingginya harga cabai membuat pedagang mengurangi pembeliannya.

Di pihak lain, pembeli yang cenderung menawar harga barang-barang di pasar membuat keuntungan pedagang menipis, hingga Rp 2.000 per kilogram. “Saya tidak mampu beli banyak karena harganya mahal,” kata Eva yang berjualan bumbu dapur di Pasar Induk Kramat Jati kepada Katadata, Jumat (29/12).

Sementara Ade, seorang pedagang lain menyatakan bahwa pasokan cabai saat ini masih relatif aman. Menurutnya, jika curah hujan terus bertambah dan pasokan berkurang, harga cabai bisa naik lebih tinggi lagi.

Sambil mengawasi kuli-kuli yang mengangkut cabai dari mobil pick up dan menjawab pesanan lewat telepon, Ade berujar, “Pembeli juga masih tetap banyak, aman.”

(Baca juga: Jaga Daya Beli, Pemerintah Tak Naikkan Harga BBM & Listrik Awal 2018)

Selain cabai, harga telur ayam ras juga terpantau naik. Anton, seorang pedagang di Pasar Kramat Jati menyatakan, harga telur ayam ras naik dari Rp 22 ribu menjadi Rp 27 ribu per kilogram. “Selain harganya mahal, pasokannya dari agen juga sulit,” tutur Anton.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga rata-rata cabai merah pada 29 Desember adalah Rp 37.900 per kilogram. Angkanya terus naik dibanding 21 Desember yang sebesar Rp 35.550 per kilogram. Begitu juga harga cabai rawit merah per kilogram pun naik hingga Rp 47.250, naik dibandingkan 8 hari lalu yang hanya Rp 39.050.

Untuk telur ayam ras, pantauan PIHPS yang dikelola Bank Indonesia (BI) menyebut harganya sebesar Rp 28.800 per kilogram pada 29 Desember 2017. Angkanya naik dari Rp 25.900 per kilogram pada 21 Desember lalu.

Secara nasional, data Kementerian Perdagangan, 28 Desember, menyebutkan harga cabai nasional sebesar Rp 34.481 per kilogram. Malah, harganya sempat mencapai Rp 35.267 pada 27 Desember. Untuk telur ayam, harga 28 Desember sebesar Rp 26.678, meningkat dari Rp 26.021 pada 27 Desember.

(Baca juga: Beras Medium Langka, Bulog Kucurkan Stok 4.500 Ton ke Pasar Cipinang)

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri menjelaskan, terjadi kenaikan harga sekitar 30% pada beberapa jenis bahan pokok menjelang akhir tahun. Penyebabnya adalah berkurangnya pasokan dan permintaan tinggi.

“Kalau Natal dan tahun baru karena banyak kumpul keluarga jadi permintaan naik,” ujarnya.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti juga mengakui terjadi kenaikan harga cabai dan telur. “Ada beberapa kenaikan seperti telur akibat keadaan cuaca,” kata Tjahya, Rabu (27/12) lalu.

Selain itu, Tjahya juga menyatakan bahwa cabai dikonsumsi secara merata di hampir seluruh wilayah Indonesia. “Daerah yang jauh dari sentra produksi memang ada kekurangan pasokan,” tuturnya.

(Baca juga: Potong Rantai Distribusi, Kementan Luncurkan E-Commerce Toko Tani)

Berdasarkan survei pemantauan harga yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) pada minggu ketiga Desember, inflasi mencapai 0,49%. Tingkat inflasi tersebut meningkat dibandingkan hasil survei pekan sebelumnya yang sebesar 0,42%.

BI melansir inflasi terjadi karena kenaikan harga bahan makanan pokok lantaran permintaan yang melonjak saat Natal dan Tahun Baru. Meski begitu, Asisten Gubernur dan Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo menilai tingkat inflasi masih terkendali. "Secara tahunan (year on year/yoy) sudah 3,38%," kata Dody.

Secara rinci, Dody menyebutkan bahwa penyebab inflasi di antaranya kenaikan harga telur ayam, cabai merah, daging ayam, dan beras. Adapun beras menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar lantaran bobotnya cukup besar dalam perhitungan inflasi.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan