Melalui pendirian kantor perwakilan, BI berharap bisa meningkatkan pemahaman tentang perkembangan dan kebijakan ekonomi dan keuangan di Tiongkok.
Bank Indonesia
Arief Kamaludin|KATADATA

Bank Indonesia (BI) bakal mendirikan kantor perwakilan pertama di Tiongkok. Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo dan Gubernur People’s Bank of China Zhou Xiaochuan sudah menandatangani kesepakatan terkait pendirian kantor perwakilan tersebut pada 5 Januari 2018 lalu. Rencananya, kantor perwakilan tersebut bakal berlokasi di Beijing, Ibukota Tiongkok.

BI menilai pendirian kantor perwakilan di Tiongkok perlu dilakukan seiring dengan semakin pentingnya peran Negeri Tirai Bambu tersebut dalam perekonomian global dan kawasan. "Keberadaan kantor perwakilan BI di Beijing diharapkan bisa semakin mengoptimalkan hubungan ekonomi dan keuangan kedua negara," kata Agus dalam keterangan tertulis, Jumat (12/1).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca juga: Raja Ekonomi Digital, Tiongkok Kuasai 42% Transaksi E-commerce Dunia)

Selain itu, ia juga berharap adanya kantor perwakilan bisa membantu meningkatkan pemahaman BI tentang perkembangan dan kebijakan ekonomi dan keuangan di Tiongkok, serta implikasinya bagi ekonomi domestik. (Baca juga: Era Perang Tarif Pajak Dimulai, Ekonom Prediksi Pergeseran Dana Asing)

Nantinya, kantor perwakilan juga akan memiliki peran penting sebagai kontak utama dan penghubung dengan People’s Bank of China, badan pemerintah dan para pelaku pasar keuangan Tiongkok.

Adapun kantor perwakilan di Beijing bakal menjadi kantor perwakilan luar negeri ke-5 yang didirikan BI. Saat ini, kantor perwakilan yang sudah ada yakni di Tokyo, Jepang; Singapura; London, Inggris; dan New York, Amerika Serikat (AS).

Artikel Terkait
Berdasarkan data BI per 20 April, secara year to date rupiah mengalami depresiasi 2,23%. Sementara itu, lira Turki melemah 6,54% dan peso Filipina 4,15%.
Nilai transaksi melalui financial technology (fintech) di bidang pembayaran mencapai US$ 18,6 miliar sepanjang tahun lalu.
Angka kredit macet di hampir semua sektor industri menurun, kecuali pertambangan.