AKR Rugi Jual Solar Subsidi

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

19/3/2018, 20.43 WIB

AKR mengklaim rugi Rp 3.200 per liter dari penjualan Solar.

solar
Arief Kamaludin | Katadata
ilustrasi.

PT AKR Corporindo Tbk mengalami kerugian dalam menjual Bahan Bakar Minyak/BBM subsidi jenis Solar. Ini karena pemerintah menetapkan harga Solar di bawah keekonomiannya.

Direktur Utama AKR Corporindo Hariyanto Adikoesoemo mengatakan kerugian penjualan Solar itu mencapai Rp 3.200 per liter. Adapun pemerintah menetapkan harga Solar sebesar Rp 5.150 per liter.

Kerugian itu belum menghitung adanya biaya angkut BBM.  AKR menanggung biaya angkut sebesar Rp 1.000 hingga 1.500 per liter.

Padahal, menurut Hariyanto, perusahaannya bisa meraup untung Rp 359 per liter, jika harga sesuai keekonomian. “Kalau mengikuti harga formula, kami masih bisa mendapatkan untung," ujarnya dalam rapat dengar pendapat di DPR Jakarta,Senin (19/3).

Keuntungan sebesar Rp 359 per liter itu pun akan dibagikan AKR kepada para penyalurnya. Untuk SPBU yang bekerjasama dengan AKR dengan skema CODO atau Company Operation Company Owner/CODO akan dapat Rp 250 per liter.

Sedangkan jika skema kerja sama DODO (Dealer Operation Dealer Owner) yang SPBU-nya murni dimiliki oleh swasta atau perorangan keuntungan yang didapatkan bisa lebih kecil. Mereka hanya mendapat keuntungan Rp 175 per liter.

Adapun kuota solar yang ditetapkan pemerintah untuk dijual AKR tahun ini sebesar 250 ribu Kilo Liter (KL). Namun porsi penjualan subsidi solar dalam bisnis AKR hanya menyumbang 10% dari total penjualan BBM yang dilakukan AKR. Alhasil, kerugian yang diderita AKR dalam menjual solar saat ini tidak terlalu berdampak terhadap kinerja perusahaan. "Sisanya BBM non subsidi jadi beban gak berat," kata Hariyanto.

Hariyanto mengatakan pihaknya memiliki beberapa lini bisnis lain selain BBM seperti penyimpanan logistik untuk bahan kimia. Dengan demikian diharapkan dapat menutup rugi yang diperoleh AKR dari menjual solar. Hariyanto berharap pemerintah dapat membuat harga solar subsidi mengikuti harga formulanya.

(Baca: AKR dan BP Bangun 350 SPBU di Indonesia Selama 10 Tahun)

Tahun 2017 lalu, emiten berkode AKRA ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,3 triliun. Angka ini naik dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 1,04 triliun.

Reporter: Anggita Rezki Amelia

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan