Pusat Logistik Berikat Diperluas untuk E-Commerce hingga Minuman Keras

Penulis: Rizky Alika

Editor: Martha Ruth Thertina

Selasa 3/4/2018, 13.03 WIB

Pengembangan Pusat Logistik Berikat dilakukan agar waktu bongkar muat di pelabuhan semakin cepat, biaya logistik lebih murah, dan pengawasan terpusat.

Pusat Logistik Berikat
Arief Kamaludin|KATADATA
Keberadaan PLB merupakan realisasi dari Paket Kebijakan Ekonomi jilid II yang diharapkan dapat menurunkan biaya logistik nasional, mempercepat waktu bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan serta menarik investasi untuk pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah telah meluncurkan Pusat Logistik Berikat (PLB) generasi kedua yang merupakan pengembangan dari PLB generasi pertama. Tujuannya antara lain untuk mempercepat waktu bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan, biaya logistik lebih murah, dan pengawasan lebih terpusat. Pengembangan baru PLB di antaranya untuk minuman keras (miras) dan e-commerce.

PLB adalah gudang logistik multifungsi untuk menimbun barang impor atau ekspor, dengan kemudahan fasilitas perpajakan berupa penundaan pembayaran bea masuk dan tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), serta menawarkan fleksibilitas operasional lainnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan masuknya miras dalam PLB lantaran selama ini distributor miras menimbun produknya di Singapura. Kemudian, distributor Indonesia mengambil miras dalam partai kecil dari sana untuk didistribusikan ke beberapa wilayah.

"Kami ingin penjualnya langsung datang ke Indonesia dalam partai besar kemudian kami sebarkan dan awasi bersama," kata Heru di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (4/2).  (Baca juga: Kawasan Ekonomi Khusus Batam Terbentuk Paling Cepat 2020)

Secara rinci, pengembangan PLB dilakukan dengan menambah delapan jenis PLB yakni PLB untuk barang pokok seperti kedelai, gandum dan jagung; PLB hub cargo udara di Bandara Ngurah Rai, Bali; PLB finished goods yaitu miras di Jakarta, Surabaya, Bali dan Belawan.

Lalu, PLB e-commerce distribution center; PLB Barang Jadi; PLB Floating Storage di perairan Kepulauan Riau; PLB ekspor barang komoditas (timah) di Bangka Belitung, dan PLB Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Heru menambahkan, pengembangan PLB dilakukan lantaran PLB generasi pertama telah memberikan berbagai manfaat di antaranya penurunan dwelling time, biaya penimbunan barang, dan biaya penelusuran teknis. "Ini juga untuk mengakomodasi tuntutan dan perkembangan ekonomi dunia, terutama di bidang e-commerce," ucapnya.

Ia pun menyebut sudah ada tujuh perusahaan yang berminat mengoperasikan PLB baru, yaitu Perum Bulog, Japfa, Cargill, Susu Fonterra, Asosiasi importir miras, Java Integrated Industrial Port and Estate (JIIPE) dan IdEA.

Sejauh ini, efisiensi biaya yang dihasilkan melalui pengembangan PLB yaitu penghematan sewa tempat penimbunan oleh importir alat berat yang mencapai US$ 5,1 juta per tahun, pemotongan biaya pengiriman (freight) dari satu pengguna PLB (dari 2-3 vessel menjadi hanya 1 vessel).

Kemudian, penghematan biaya penyimpanan barang sebesar Rp 7,18 juta/kontainer per tiga bulan, dan pemindahan tiga gudang dari Singapura ke Indonesia seluas 12.736 meter oleh importir alat berat.

Adapun PLB generasi pertama diklaim telah dimanfaatkan penuh atau full utilization. Persediaan (inventory) yang ditimbun di PLB mencapai USD 2,6 miliar dan persediaan ex Singapura yang ditimbun di PLB mencapai US$ 606 juta. PLB yang dimaksud tersebar di 75 lokasi dari Lhokseumawe, Aceh hingga Sorong, Papua dan dioperasikan oleh 55 pengusaha.

"Itu adalah inventory yang ditimbun seluruh perusahaaan logistik berikat yang barang-barangnya berasal terutama dari Singapura, China, Jepang, USA, Arab Saudi, Jerman, Malaysia, Kuwait, Inggris, India Argentina, Brasil, Finlandia," kata Heru.

Kuis Katadata

Uji Pengetahuan Anda Tentang Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Uji Pengetahuan Anda Tentang Pejuang Kemerdekaan Indonesia