Penerimaan Negara dari PPh 21 Tumbuh Nyaris 16%, Tertinggi Sejak 2013

Penulis: Rizky Alika

Editor: Martha Ruth Thertina

Senin 16/4/2018, 19.39 WIB

Pertumbuhan penerimaan pajak dari sektor pertambangan dan perdagangan paling tinggi yaitu masing-masing 70,88% dan 28,64%.

Pajak
Arief Kamaludin|KATADATA

Kementerian Keuangan mencatat hampir seluruh jenis pajak utama mengalami pertumbuhan tahunan double digit pada triwulan I 2018. Bahkan, pertumbuhan tahunan Pajak Penghasilan (PPh) 21 tercatat sebagai yang tertinggi dalam lima tahun belakangan.

“PPh Pasal 21 triwulan I 2018 tumbuh tertinggi sejak 2013,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di kantornya, Jakarta, Senin (16/4). Menurut dia, pencapaian ini menunjukkan kenaikan gaji dan jumlah orang yang bekerja.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca juga: WNI Simpan Ribuan Triliun Harta di Luar Negeri, Diimbau Lapor Sukarela)

Secara rinci, penerimaan dari PPh 21 sebesar Rp 30,39 triliun atau naik 15,73% dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Kemudian, PPh 22 impor sebesar Rp 13,09 triliun atau naik 25%, PPh orang pribadi (OP) sebesar Rp 5,35 triliun atau naik 17,61%, dan PPh badan sebesar Rp 34,85 triliun atau naik 28,42%.

Selanjutnya, PPh 26 sebesar Rp 9,85 triliun atau tumbuh 24,13%, PPh final sebesar Rp 26,37 triliun atau tumbuh 13,49%, PPN dalam negeri sebesar Rp 55,33 triliun atau tumbuh 13,06%, dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor sebesar Rp 40,71 triliun atau tumbuh 21,56%.

Penerimaan pajak juga tumbuh double digit jika dilihat berdasarkan sektor usaha, dengan pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor pertambangan dan perdagangan yaitu masing-masing 70,88% dan perdagangan 28,64%. "Pertambangan (melonjak) karena harga komoditas dan volume mulai menunjukkan kenaikan," ucap dia.

Kemudian, sektor jasa lainnya (termasuk wajib pajak orang pribadi) tumbuh 23,82%. Lalu, sektor administrasi pemerintahan tumbuh 16,8%. Kondisi ini berbalik dari triwulan I 2017 yang pertumbuhannya negatif 17,81%. Industri pengolahan tumbuh 16,72%, pertanian 16,21%, dan transportasi serta gudang 10,76%.

Adapun penyumbang terbesar penerimaan pajak sejauh ini yaitu sektor pengolahan dan perdagangan. Kontribusi sektor pengolahan sebesar 28,07% dan perdagangan 23,32% terhadap total penerimaan pajak di triwulan I 2018 yang sebesar Rp 244,5 triliun.

Secara keseluruhan, realisasi penerimaan perpajakan pada triwulan I 2018 tercatat sebesar Rp 262,4 triliun. Penerimaan tersebut tumbuh 10,3% (yoy) atau 16,2% (yoy) jika tanpa menghitung penerimaan dari program amnesti pajak. Dengan pencapaian tersebut, maka realisasi penerimaan perpajakan telah mencapai 16,3% dari target yang sebesar Rp 1.618 triliun.

Detailnya, pajak nonmigas sebesar Rp 233,1 triliun atau tumbuh 10,7%. Bila tanpa memperhitungkan penerimaan dari amnesti pajak, pertumbuhannya meencapi 23,1%. Sementara itu, pajak migas turun 4,2% menjadi Rp 11,4 triliun. Terakhir, penerimaan bea dan cukai Rp 17,9 triliun atau tumbuh 15,84%.