BI Gelar Rapat Bahas Bunga Acuan, Rupiah Tembus 14.100 per Dolar AS

Penulis: Martha Ruth Thertina

Editor: Martha Ruth Thertina

Rabu 16/5/2018, 13.35 WIB

Mayoritas mata uang Asia mencatatkan penguatan nilai tukar terhadap dolar AS, meski dolar AS tengah perkasa.

Uang rupiah
Arief Kamaludin|Katadata

Nilai tukar rupiah menembus Rp 14.100 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan di pasar spot Rabu (16/5) siang. Pelemahan terjadi di tengah rapat bulanan Dewan Gubernur BI untuk menentukan tingkat bunga acuan BI 7 Days Repo Rate.

Adapun pelemahan tersebut seiring kembali perkasanya dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) tercatat kembali meningkat sejak Selasa (15/4) lalu. Saat berita ini ditulis, nilai tukar rupiah melemah 0,5% ke level 14.107 per dolar AS. Pelemahan tersebut tercatat paling besar di antara mata uang Asia lainnya yang juga melemah yaitu Won Korea 0,31%, ringgit Malaysia 0,21%, dan dolar Taiwan 0,02%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Di sisi lain, mayoritas mata uang Asia lainnya tercatat mampu menguat. Rupee India menguat 0,42%, Baht Thailand dan yuan Tiongkok 0,15%, peso Filipina 0,21%, dolar Singapura 0,15%, dan Yen Jepang 0,07%. 

(Baca juga: Jelang Rapat BI, Agus Martowardojo Tegaskan Peluang Bunga Acuan Naik)

Dewan Gubernur BI menggelar rapat bulanan pada 16 dan 17 Mei ini. Dalam beberapa kali kesempatan, Gubernur BI Agus Martowardojo memberikan sinyal soal peluang kenaikan bunga acuan. Hal itu dengan melihat nilai tukar rupiah yang sudah tak sesuai fundamental ekonomi dan banyaknya tantangan global.

Tantangan global yang dimaksud di antaranya siklus kenaikan bunga acuan AS alias Fed Fund Rate. Adapun ekspektasi kenaikan lebih cepat Fed Fund Rate telah memicu arus keluar dana asing dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia, sejak akhir Januari 2018 lalu. Kondisi ini memicu gejolak nilai tukar mata uang. 

“Kami membuka peluang itu (kenaikan BI 7 Days Repo Rate) dan kami melihat bahwa peluang itu sangat dimungkinkan,” kata Agus di Jakarta, Selasa (15/5). Kenaikan BI 7 Days Repo Rate diharapkan bisa meredam arus keluar dana asing maupun penempatan dana dalam dolar AS. (Baca juga: BI Disarankan Kerek Bunga Acuan daripada Cadangan Devisa Terkuras)

Namun, mengacu pada data Bloomberg, ekonom masih terbagi soal potensi kenaikan bunga acuan. Beberapa memprediksi kenaikan bunga acuan 0,25% menjadi 4,5%, sedangkan beberapa lainnya memprediksi tak ada kenaikan.