Uni Eropa Buka Impor Sawit Hingga 2030

Penulis: Ekarina

21/6/2018, 18.39 WIB

Uni Eropa merupakan pasar ekspor minyak sawit terbesar kedua. Adapun ekspor minyak sawit ke kawasan tersebut telah meningkat sebesar 28% pada 2017.

Kelapa sawit
Arief Kamaludin|KATADATA
Petani memanen buah kelapa sawit di salah satu perkebunan kelapa sawit di Desa Delima Jaya di Kecamatan Kerinci, Kabupaten Siak, Riau.

Uni Eropa akan menunda pelarangan penggunaan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebagai bahan campuran biofuel hingga 2030. Keputusan itu disepakati dalam pertemuan trilog antara Komisi Eropa, Parlemen Eropa dan Dewan Uni Eropa pada 14 Juni 2018 yang juga menghasilkan revisi Arahan Energi Terbarukan Uni Eropa (RED II).

Dalam teks RED II, Uni Eropa sepakat mencapai target energi terbarukan sebesar 32% pada 2030 dari yang ada saat ini sebesar 27%. Kesepakatan baru itu menggantikan rancangan proposal energi yang akan menghapus minyak kelapa sawit sebagai bahan dasar biofuel pada 2021.

Untuk mencapai target energi terbarukan Uni Eropa, kontribusi biofuel dari sejumlah kategori bahan baku akan dikurangi secara bertahap hingga 2030.

"Biofuel akan dikaji dengan perlakukan yang sama, tanpa melihat sumbernya. Teks RED II tidak akan membedakan atau melarang minyak sawit. Uni Eropa tetap menjadi pasar paling terbuka untuk minyak sawit Indonesia," kata Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend dalam keterangan resminya.

(Baca : Pengusaha Sawit Kritik Pengirim Surat Terbuka untuk Jokowi & Uni Eropa)

Dengan begitu, Uni Eropa menyebut tidak ada pembatasan impor minyak sawit sebagai bahan campuran biofuel dan pasar benua biru tetap terbuka untuk impor minyak sawit.

Uni Eropa merupakan pasar ekspor minyak sawit terbesar kedua. Adapun ekspor minyak sawit ke pasar Uni Eropa telah meningkat sebesar 28% pada 2017.

 

Indonesia telah menempuh jalan panjang untuk memulihkan ekspor sawit ke kawasan tersebut. Sejumlah lobi digencarkan untuk kembali mendapatkan akses pasar untuk salah satu komoditas penyumbang devisa negara terbesar ini. Tak hanya ke Uni Eropa, lobi sawit juga dilakukan hingga Vatikan.

Proses lobi sawit kala itu dipimpin Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut juga membawa serta beberapa pengusaha industri kelapa sawit sebagai tamu untuk membahas hal ini di antaranya Martua Sitorus (Wilmar International), Bachtiar Karim (Musim Mas), dan Surya Darmadi (Duta Plasma).

(Baca : Industri Sawit Eropa Dukung Indonesia Lawan Diskriminasi Uni Eropa)

Luhut mengungkapkan, salah satu strategi lobi yang akan dilakukan dengan melakukan rangkaian perjalanan ke negara-negara Uni Eropa. Dalam rangkaian tersebut, Indonesia akan menjelaskan posisinya terkait persoalan kelapa sawit yang dihadapi saat ini.

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN