Survei SMRC: Mahfud MD dan Sri Mulyani Dianggap Tepat Jadi Cawapres

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Yuliawati

Kamis 5/7/2018, 18.33 WIB

Pemilihan tokoh nonpartai sebagai cawapres Jokowi dianggap langkah menghindari gesekan parpol koalisi.

Jokowi Sri Mulyani
ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma
Presiden berdiskusi dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani di Istana Negara, Jakarta, 7 Desember 2016.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjadi dua tokoh yang dianggap layak bersaing dalam Pemilihan Presiden 2019. Keduanya konsisten masuk daftar lima tokoh bersanding dengan pimpinan partai seperti Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Kelima tokoh tersebut muncul dalam survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) pada Mei 2018. Survei melibatkan tokoh elite, pembuat opini atau opinion leader, maupun massa pemilih nasional.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Mahfud dan Sri Mul dianggap konsisten memiliki tingkat kualitas personal yang tinggi. Dalam survei tersebut, SMRC menggunakan lima indikator, yakni integritas, kapabilitas, empati, akseptabilitas, dan kontinuitas.

(Baca juga: Menanti Kejutan Capres-Cawapres Jelang Pendaftaran Pilpres)

CEO SMRC Djayadi Hanan mengatakan, Jokowi memiliki rata-rata kualitas personal paling tinggi di kalangan elite. Nama Jokowi kemudian disusul Jusuf Kalla, Mahfud MD, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, serta pemilik CT Corp Chairul Tanjung, Sri Mulyani, dan Ketua PBNU Said Aqil Siradj.

Para opinion leader juga menempatkan Jokowi dengan skor rata-rata paling tinggi diiringi JK. Setelahnya, muncul nama Mahfud MD, Sri Mulyani Indrawati, Said Aqil Siraj, Airlangga Hartarto, dan eks Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) M. Zainul Majdi.

Sementara itu, massa pemilih nasional lebih menyukai Jokowi (85%), mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo (83%), Mahfud MD (81%), Prabowo (81%), dan Sri Mulyani (81%). Kemudian, nama-nama tersebut disusul Jusuf Kalla, M. Zainul Majdi, serta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Kalau mempertimbangkan tingkat konsistensi masuk dalam lima besar dari penilaian elit hingga massa pemilih nasional di luar Jokowi, Jusuf Kalla, dan Prabowo, hanya dua nama tokoh, yakni Mahfud MD dan Sri Mulyani," kata Djayadi di kantornya, Jakarta, Kamis (5/7).

(Baca juga: Survei Indikator: Ini Para Calon Paling Diinginkan Mendampingi Jokowi)

Melihat hasil ini, Djayadi menilai politisi saat ini masih belum banyak dipertimbangkan untuk bisa maju dalam Pilpres 2019. Hanya Airlangga saja yang namanya yang dianggap memilki kualitas personal mumpuni.

Itu pun, lanjut Djayadi, hanya menurut penilaian elite dan opinion leader. "Sementara di tingkat massa pemilih nasional, kualitasnya (Airlangga) tidak jauh berbeda dengan tokoh-tokoh partai yang lain," kata Djayadi.

Hindari gesekan partai

Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris berpendapat, hasil survei ini bisa menjadi pertimbangan Jokowi untuk mencari calon wakil presiden (cawapres) dari tokoh nonpartai. Alasannya, masyarakat tidak melihat politisi sebagai kandidat cawapres terbaik berdasarkan kualitas personal.

Dua nama yang konsisten unggul secara kualitas personal, Mahfud dan Sri Mulyani justru berasal dari tokoh nonpartai. "Ini bisa membuka mata bagi Jokowi bahwa jangan-jangan kandidat yang terbaik bukan dari partai, tapi nonpartai," kata Syamsuddin.

Selain itu, Syamsuddin pun menyarankan Jokowi untuk memilih tokoh nonpartai untuk menghindari gesekan dalam koalisi. Saat ini, koalisi pendukung Jokowi cukup gemuk karena berasal dari PDIP, Nasdem, Golkar, PPP, dan Hanura.

Dengan memilih tokoh nonparpol, Syamsuddin menilai status partai pendukung Jokowi akan lebih setara dalam koalisi. "Saya mengusulkan jokowi tidak mengambil salah satu ketua umum partai," kata Syamsuddin.

Survei yang dilakukan SMRC menggunakan metode yang dibagi berdasarkan kriteria responden, baik elit, opinion leader, maupun massa pemilih nasional. Survei terhadap elit dilakukan dengan metode wawancara mendalam terhadap 12 narasumber yang berasal dari tokoh politik, sosial keagamaan, teknokrat, serta pengusaha besar.

Metode purposive sampling dilakukan terhadap 93 orang opinion leader yang berasal dari pengamat, intelektual kampus dan lembaga riset, serta pemimpin redaksi. Survei terhadap massa pemilih nasional dilakukan dengan metode multistage random sampling terhadap 2530 responden di seluruh Indonesia dengan margin of error sebesar +/- 2,1% dan tingkat kepercayaan 95%.

Kuis Katadata

Dunia Anak-Anak

Uji pengetahuan Anda mengenai Hari Anak dan dapatkan kesempatan memenangkan hadiah menarik dari Zurich senilai Rp. 250.000