Survei PwC: Perbankan Menganggap Go-Jek Jadi Pesaing Utama

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

Selasa 10/7/2018, 15.29 WIB

Selain Go-Jek yang memiliki Go-Pay, kalangan perbankan juga menyadari ancaman beberapa penyedia uang elektronik lain seperti OVO, TCash, hingga Alipay.

Go-Pay
Go-Jek
Ilustrasi pembayaran melalui QR Code Go-Pay.

Pesaing perbankan bukan lagi hanya financial technology (fintech), tetapi juga aplikator hingga e-commerce. Mayoritas perbankan menilai, perusahaan teknologi seperti Go-Jek, Grab, dan yang lainnya menjaring lebih banyak konsumen dan memiliki data lengkap.

Lembaga audit dan konsultan ekonomi  PricewaterhouseCoopers (PwC) melakukan survei terhadap 52 responden dari 43 bank di Indonesia. Riset bertajuk 'Digital Banking in Indonesia 2018' itu menunjukkan, 72% responden menganggap Go-Jek sebagai pesaing utama.

Seperti diketahui, Go-Jek memang mengembangkan sistem pembayarannya sendiri. "Go-Jek memiliki Go-Pay," kata Technology and Risk Consulting Leader at PWC Indonesia Chairil Tarunajaya saat pemaparan hasil riset di Hotel Westin, Jakarya, Selasa (10/7).

(Baca juga: Dari E-Commerce hingga Perbankan, Chatbot Gantikan Operator)

Menurut responden, Go-Jek memiliki banyak konsumen yang tersebar luas di Tanah Air. Bahkan, aplikator tersebut bisa memanfaatkan data konsumen untuk memberikan layanan yang sesuai.

Dengan begitu, Go-Jek bisa menjaring lebih banyak dana yang berputar (floating fund) melalui Go-Pay. Alhasil, pendapatan berbasis komisi (fee based income) dari mitra yang bekerja sama dengan Go-Jek meningkat drastis.

Lalu, sebanyak 62% menganggap Alibaba sebagai pesaing berat. Sebab, Alibaba memiliki Alipay dan layanan lainnya seperti Go-Jek, sehingga perlu diperhitungkan pengaruhnya terhadap operasional perbankan ke depan.

Begitu pun dengan Grab yang kini berkolaborasi dengan PT Visionet Internasional (OVO) maupun Telkomsel melalui TCash, juga dianggap sebagai pesaing oleh perbankan.

(Baca juga: Saingi Go-Jek, Grab Rilis Layanan Mirip Go-Mart di Filipina)

Oleh karenanya, perbankan berbondong-bondong mengumpulkan data guna memberikan layanan yang sesuai dengan konsumen. Sebanyak 96% responden memanfaatkan big data agar tetap berdaya saing. Selain itu, 58% responden meningkatkan kemampuan pegawainya agar lebih memahami kebutuhan konsumen. Lalu 46% responden memilih bekerja sama dengan pihak ketiga untuk memeroleh data.

Hanya, mengumpulkan data saja belum cukup. Sebanyak 68% responden berpendapat bahwa memeroleh data yang akurat dan berkualitas adalah tantangan terbesar. Tak hanya itu, responden menilai perlu ada penyesuaian data yang diperoleh dengan kebutuhan konsumen. Oleh karenanya, perlu ada peningkatan kemampuan pegawai dalam hal analisa data.

Sebanyak 66% responden menggandeng pihak ketiga untuk memberikan pelatihan terkait digital kepada pegawainya. Lalu 56% responden menggabungkan tim yang dimiliki dengan bagian teknologi di fintech. Ada pula 44% responden yang mengirim karyawannya untuk studi banding di perusahaan teknologi seperti Google. Bahkan, 28% membuat divisi khusus untuk pelatihan terkait digital.

(Baca juga: Valuasi Go-Jek Dekati Grab yang Telah Beroperasi di 8 Negara)

Consulting Director at PwC Indonesia Santoso Widjaja memperkirakan, perusahaan teknologi tidak lagi hanya memberikan layanan digital tetapi juga akan memperkuat produk solusi keuangan. "Persaingan ataupun kolaborasi antara bank dan perusahaan teknologi ke depan semakin sengit," ujarnya.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha