Buntut Perang Dagang AS - Tiongkok, Tesla Bangun Pabrik di Shanghai

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

Rabu 11/7/2018, 09.50 WIB

Ini adalah kali pertama Tesla membangun pabrik di luar AS.

Tesla Roadster
Instagram/@elonmusk
Tesla Roadster saat melaju di orbit Mars, Kamis (8/2).

Produsen mobil listrik asal Amerika Serikat (AS) Tesla Inc akan membangun pabrik otomotif di Shanghai, Tiongkok. Pabrik tersebut bisa memproduksi 500 ribu unit per tahun atau dua kali kapasitas pabrik Tesla lainnya.

Ini adalah kali pertama Tesla membangun pabrik di luar AS. "Kesepakatan ini diumumkan setelah Tesla menaikkan harga kendaraannya di Tiongkok, guna mengimbangi kenaikkan bea masuk yang diterapkan pemerintah atas barang impor asal AS," demikian dikutip dari Reuters, Selasa (10/7) kemarin.

Dari kesepakatan yang ditandatangani kemarin, Tesla berkomitmen mengintegrasikan pabrik dengan pusat penelitian dan pengembangan (research and development/R&D), dan penjualan. Dalam penandatanganan kerja sama ini dilakukan di Fairmont Peace Hotel Shanghai tersebut, co-founder and CEO Tesla Elon Musk turut hadir.

(Baca juga: Aturan Rampung, Industri Mobil Listrik Akan Dapat Insentif)

Pada kesempatan berbeda, Musk menyampaikan, pembangunan pabrik di Tiongkok tidak akan memengaruhi produksi pabrik lainnya. Selain itu, ia menegaskan bahwa pembangunan pabrik ini sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari, sebelum perang dagang yang dijalankan Presiden AS Donald Trump dengan menerapkan bea masuk yang tinggi atas produk asal Tiongkok.

Dalam rencana bisnis Tesla, pabrik di Shanghai mulai memproduksi pada dua atau tiga tahun setelah pembangunan dimulai.

Setelah kesepakatan ini, saham Tesla pun naik 1,5% pada penutupan perdagangan kemarin. Padahal, beberapa analis mempertanyakan modal Tesla untuk membangun pabrik tersebesar itu. "Saya yakin, Tesla butuh dana segar setidaknya pada tahun depan," kata Analis NORD/LB Frank Schwope.

(Baca juga: Berkendara Tak Lagi Butuh Supir)

Sekadar informasi, Tesla menaikkan harga mobil Model X dan S-nya sekitar 20% di Tiongkok. Langkah ini menyusul kebijakan Kementerian Perdagangan Tiongkok yang mengajukan kenaikkan bea masuk 128 produk AS, salah satunya kendaraan. Ini merupakan pembalasan atas kebijakan AS yang mengenakan tarif pada produk Tiongkok senilai US$ 34 miliar.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha