Smelter Tak Ada Progres, Freeport Dapatkan Lagi Perpanjangan Izin

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Arnold Sirait

Selasa 31/7/2018, 20.52 WIB

Ini merupakan perpanjang keempat yang diperoleh Freeport.

Freeport
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Area pengolahan mineral PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Papua.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperpanjang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) sementara PT Freeport Indonesia (PTFI) yang berakhir 31 Juli 2018. Ini merupakan perpanjangan keempat yang didapatkan perusahaan asal Amerika Serikat.

PTFI mendapatkan perpanjangan IUPK sementara pertama kali sejak 10 Februari 2017 hingga 10 Oktober 2017. Kemudian diperpanjang hingga 31 Desember 2017. Lalu diperpanjang sampai 30 Juni 2018. Setelah itu, mendapatkan perpanjangan selama satu bulan hingga 31 Juli 2018.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Direktur Jendral Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum bisa memastikan berapa lama perpanjangan diberikan. Itu akan disampaikan pada Rabu (1/8). “Diperpanjang iya. Nanti tunggu besok pagi kan tanggal 1 Agustus 2018, nanti lihat berapa lama,” kata dia di Jakarta, Selasa (31/7).

Di sisi lain, pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) Freeport tidak ada kemajuan yakni 2,45%. Padahal, smelter merupakan salah satu syarat dalam menentukan pemberian izin operasional Freeport.

Saat ini, Freeport sudah melakukan studi pembangunan smelter. Dalam studi itu pembangunan smelter akan dilakukan di Gresik, Jawa Timur. Bahkan mereka sudah mengeluarkan dana sebesar US$ 26 juta.

Selain itu, PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Amman Mineral melakukan studi bersama terkait rencana pembangunan smelter. Opsinya ada di Nusa Tenggara Barat.

Jadi, hingga kini belum ada progres yang signifikan dari pembangunan smelter. “Seperti yang dulu jawabannya, bengawan solo, riwayatmu dulu,” ujar Bambang.

Pemerintah juga tengah negosiasi dengan PT Freeport Indonesia mengenai divestasi saham. Pemerintah melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) telah menandatangani pokok perjanjian (Head of Agreement/HoA) dengan Freeport Indonesia dan Rio Tinto mengenai divestasi.

(Baca: Inalum dan Freeport Teken Kesepakatan Divestasi 51% Saham)

Menurut Bambang, ada kemungkinan perpanjangan IUPK PTFI akan diperpanjang sampai proses divestasi saham tersebut rampung. Namun, tenggatnya belum ditentukan. “Tidak dibatasi. Terserah,” ujar dia.

Reporter: Fariha Sulmaihati