Arcandra Soroti Biaya Tinggi Produksi Migas Pertamina

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Muchamad Nafi

Jum'at 10/8/2018, 18.51 WIB

Menurut Menteri Jonan, rata-rata biaya produksi Pertamina 20 % lebih tinggi dari 10 kontraktor migas penyumbang terbesar produksi nasional.

Jonan Arcandra
Katadata | Arief Kamaludin

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menyoroti biaya produksi minyak dan gas bumi PT Pertamina yang dinilai tinggi. Menurutnya, kenaikan biaya tersebut dipicu oleh kondisi lapangan yang dikelola oleh Pertamina.

Saat ini, Pertamina mengelola lapangan-lapangan dalam kondisi tua atau mature. Blok yang dikelola perusahaan pelat merah ini juga kecil sehingga menimbulkan biaya produksi yang besar. (Baca juga: Banyak Permintaan, Kementerian ESDM Minta Pertamina Fokus di Dua Blok).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Dia menganalogikan blok yang memproduksi 2.000 barel per hari (bph) dengan blok yang menghasilkan 200 ribu bph memiliki tingkat biaya produksi yang berbeda. Untuk blok yang produksinya kecil, biayanya bisa lebih besar. Hal sebaliknya dengan blok dengan tingkat produksi besar.

Alhasil, meski biaya produksi Pertamina tinggi, namun hal itu tidak bisa menjadi tolok ukur bahwa perusahaan pelat merah itu tidak efisien. “Pertamina kelola blok-blok kecil, cost per barel-nya besar,” kata Arcandra di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (10/8). “Cost per barel tidak jadi penentu company itu efisien, itu hanya indikatif.”

Agar pengukurannya adil, dia menyarankan melihat indikator lain yang perlu ditinjau untuk melihat suatu perusahaan efisien atau tidak dalam mengelola blok migas. Salah satunya yaitu melihat biaya pengeboran per sumur dan biaya pengadaan yang dilakukan kontraktor di suatu blok baik pengadaan barang dan jasa.

Ia pun mengklarifikasi mengenai Pertamina yang kerap disebut tidak efisien mengelola Blok Mahakam. Baginya, target produksi Pertamina dalam mengelola Mahakam masih di atas target Total saat mengoperatori blok tersebut sebelumnya. Meskipun, hingga saat ini Arcandra mengakui produksi Blok Mahakam masih di bawah target yang dipatok Pertamina.

Dalam analisis Wakil Komisaris Pertamina ini, salah satu yang membuat biaya produksi Pertamina tinggi di Blok Mahakam lantaran blok tersebut masuk masa penurunan alamiah alias decline. Sayang, ia belum mau merinci berapa besar biaya produksi Pertamina di blok tersebut saat ini.

Mengacu data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), rata-rata produksi gas Blok Mahakam baru 957 juta kaki kubik per hari (mmscfd) per 5 Agustus 2018. Padahal, target di Rencana Kerja Anggaran (RKA) Pertamina tahun ini 1.008 mmscfd.

Sementara untuk produksi minyak, capaiannya baru 43 ribu barel per hari (bph) pada waktu yang sama. Realisasi ini lebih rendah dari target dalam RKA Pertamina sebesar 46 ribu bph. Padahal pada Januari-Juni, produksi minyak Blok Mahakam bisa tembus 46 ribu bph.

Belakangan, Menteri ESDM Ignasius Jonan mempertanyakan tingginya biaya produksi migas Pertamina. Hal itu sudah disampaikan kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). (Baca pula: Produksi Blok Mahakam Masih Rendah hingga Awal Agustus).

Menurut Jonan, rata-rata biaya produksi Pertamina 20 % lebih tinggi dari 10 kontraktor migas penyumbang terbesar produksi nasional. “Saya juga bingung. Saya sudah beri tahu Menteri BUMN, ini bagaimana, masa lebih tinggi,” kata dia di Jakarta, Rabu (8/8).

Sayang, dia pun belum mau merinci hal tersebut. Yang jelas, realisasi pengembalian biaya operasi atau cost recovery di seluruh blok produksi di Indonesia hingga Juni 2018 mencapai US$ 5,2 miliar. Jumlah ini sudah 51 % dari target APBN sebesar US$ 10,1 miliar.

Menurut Jonan, tingginya biaya itu membuat Pertamina tidak efisien. Hal ini juga yang melatarbelakangi Jonan untuk menerapkan bagi hasil produksi dengan kontrak gross split. Dengan skema ini, tidak ada lagi cost recovery. (Baca pula: Menteri ESDM Pertanyakan Tingginya Biaya Produksi Pertamina).

Data SKK Migas menunjukkan mulai Awal Januari hingga Juli 2017 tercatat Pertamina masuk dalam kategori kontraktor migas yang memiliki biaya produksi besar. Dari lima 15 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java (ONWJ) memiliki biaya produksi sekitar US$ 28, 49 per BOE. Ini tertinggi kedua setelah Kangean Energi Indonesia.

Selain itu ada juga Pertamina EP yang memiliki biaya produksi saat itu sebesar US$ 19,42 per BOE. Realisasi tersebut jauh dari rata-rata biaya produksi migas KKKS lainnya yang mencapai US$ 15,5 per BOE pada saat itu.

Pada tahun ini, SKK Migas menargetkan biaya produksi migas KKKS domestik sebesar US$ 18,4 per BOE. Adapun realisasi sampai Juli 2018 mencapai US$ 16-17 per BOE. Angka ini masih belum diaudit.

Kuis Katadata

Uji Pengetahuan Anda Tentang Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Uji Pengetahuan Anda Tentang Pejuang Kemerdekaan Indonesia